20 Tahun Sri Idap Hidrosefalus, Ibunya Terharu Ada Bantuan

Sudah 20 tahun, Sri divonis menderita penyakit hidrosefalus sejak usia tujuh bulan. Kepalanya membesar dan tak henti menggelengkan kepalanya. Akibat dari penyakitnya, ia kehilangan masa kanak-kanak dan remajanya. Kondisi fisiknya pun tak kunjung berkembang pesat layaknya orang dewasa.

Menurut informasi yang diperoleh tim Rumah Yatim Cabang Medan Harun menyebutkan, sudah tiga tahun ini ia menjadi yatim, saat mengunjungi kediamannya di Dusun Kantil, Desa Brahrang, Kabupaten Langkat, kondisi ekonomi kelurganya memang termasuk dalam kategori tidak mampu. Selama 20 tahun ini, Sri menjalani pengobatan di rumah sakit hanya satu kali saat masih balita.

Kemudian, sambung dia, jika ingin sembuh kata Dokter Ahli saraf, Sri harus menggunakan selang di dalam kepalanya seumur hidup. Hal ini membuat sang ibu merasa takut, selain itu keterbatasan biaya pun menjadi salah satu kendalanya. Sang ibu hanya bekerja sebagai pedagang, tidak mampu mengobati seluruh biaya berobat.

“Pengobatan selanjutnya lebih kepada alternatif yang sifatnya tidak banyak biaya. Di tengah keterbatasan, ya sudah pasrah dengan kondisi yang ada, akhirnya ikhtiar dengan pengobatan alternatif,” jelasnya.

Oleh karena itu, selama 20 tahun itu, Sri hanya diberi pengobatan alternatif agar bisa bertahan hidup. Ketika tim Rumah Yatim mengunjunginya, ia masih bisa berinteraksi dengan orang lain, namun di sisi lain ia tidak bisa berjalan. Di tengah kondisi ekonomi yang berada di garis kemiskinan, sang ibu terharu menangis saat Rumah Yatim memberi bantuan peduli sesama.

“Ketika ke sana ngasih bantuan ini sampai nangis ibunya. Karena masih ada yang peduli,” imbuhnya.

Kesembuhan adalah harapan terbesar Sri, namun keterbatasan biaya membuat dia pasrah dengan kondisi yang ada. Berbagai penanganan telah dilakukan, hingga kini ia masih menantikan uluran tangan dari para dermawan. Harun menambahkan, bantuan yang diberikan tidak hanya ini. Melainkan ada bantuan lanjutan. Rumah Yatim akan terus berupaya untuk membantu.

 

Jurnalis: Dila Nurfadila

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend