Agil, Si Anak Hebat yang Selalu Semangat Sekolah dengan Seragam Lusuh dan Sepatu Robeknya Kini Tutup Usia

Rumah Yatim cabang Padang memberikan santunan untuk keluarga almarhum Agil (10), salah satu anak hebat yang baru saja meninggal karena menderita tetanus, Minggu (26/9).

Santunan tersebut diserahkan langsung oleh Sendi, kepala cabang Rumah Yatim Padang, kepada Esi Susilawati selaku ibu dari almarhum Agil di kediamannya di Kelurahan Talaok, Kecamatan Bayang, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Ketika menerima santunan, Esi langsung menangis. Berkali-kali dirinya mengucapkan terima kasih kepada Rumah Yatim dan para donaturnya yang selalu peduli kepada keluarganya.

“Bantuan yang Rumah Yatim berikan ini sangat berharga untuk kami, terima kasih kepada Rumah Yatim dan para donaturnya yang sudah peduli dan membantu kami,” ucap Esi penuh haru.

Esi bercerita, putranya meninggal hari Senin (20/9) lalu, pukul 17.00 sore di Rumah Sakit, putranya meninggal karena tetanus dengan kondisi wajah bengkak dan mata sudah buta.

Ia melanjutkan, seminggu sebelum Agil meninggal. Kaki anaknya tersebut tertusuk paku berkarat saat membantu ayahnya mencari batu di sungai. Saat itu, Agil yang tidak merasa kesakitan hanya mengatakan kepada Esi jika dirinya tertusuk paku dan sudah diobati oleh ayahnya.

Namun, beberapa hari setelah kejadian tersebut, Agil mengalami demam dan mengeluhkan kesakitan. Dikarenakan Esi dan suami tidak memiliki uang untuk berobat, akhirnya Agil dirawat di rumah dengan pengobatan seadanya. Akan tetapi kondisi Agil kian hari kian memburuk. Kepada Esi, Agil mengatakan jika dirinya tidak bisa melihat dan Agil pun semakin merengek karena kesakitan.

Karena khawatir dengan kondisi Agil, kedua orang tua Agil langsung membawa putranya ke rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter mendiagnosis Agil terkena tetanus, dan tetanus tersebut sudah menjalar ke seluruh tubuhnya termasuk mata Agil.

Di rumah sakit, kondisi Agil semakin memburuk, ia terus menerus merengek kesakitan, sampai akhirnya Agil menghembuskan nafas terakhirnya. “Agil hanya dirawat setengah hari saja, setelah itu dia meninggalkan kami semua,” ucap Esi sambil menangis.

Kepada Sendi, Esi mengatakan jika bantuan sepatu, seragam, tas dan alat tulis baru yang diberikan Rumah Yatim pada Agustus lalu, membuat Agil semakin bersemangat sekolah. Agil pun selaku menjaga baik-baik bantuan dari Rumah Yatim ini.

“Waktu itu saya dan bapak belum bisa membelikan sepatu baru untuk Agil, jadi Agil bergantian pake sepatu bareng kakaknya yang SMP. Meskipun sepatunya udah sobek besar dan tidak layak pakai, Agil tidak mengeluh dan terus memakainya. Alhamdulillah ketika menerima bantuan dari Rumah Yatim, Agil sangat senang. Dia semakin semangat belajar dan sekolahnya,” papar Esi sembari tersenyum.

Esa mengucapkan banyak terima kasih kepada Rumah Yatim yang telah membantu pendidikan anak-anaknya, khususnya Agil. Meskipun Agil tidak bisa menikmati lama bantuan tersebut, namun Esi yakin jika anaknya ini sangat bahagia dan bersyukur bisa menerima bantuan Rumah Yatim.

“Semoga Allah membalas semua kebaikan Rumah Yatim dan para donatur yang telah peduli kepada kami, kami tidak akan melupakan semua kebaikan ini, kami akan terus mendoakan untuk kebaikan Rumah Yatim dan para donaturnya,” tutup Esi.

Agil merupakan anak yang hebat, semangatnya dalam menjalani hari patut diacungi jempol. Meskipun kondisi perekonomian keluarganya serba kurang, Agil tidak pernah mengeluh.

Dengan menggunakan seragam bekas yang sudah lusuh, sepatu yang rusak, dan tas yang rusak, Agil tetap bersemangat untuk menuntut ilmu. Ia tidak pernah minder ketika sepulang sekolah harus mencari rumput untuk membantu perekonomian keluarganya.

Semoga Agil diberikan tempat yang terbaik oleh Allah SWT dan keluarganya diberikan kekuatan dan kesabaran.

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend