Berkat Rumah Yatim, Sugiarti Perlahan Bisa Wujudkan Impiannya

Siapa sangka, gadis asal Slerok Kota Tegal ini menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebelum memutuskan mengambil jurusan Pasca Panen ITB, cita-citanya cukup labil. Tapi kini Sugiarti mantap dengan apa yang di pilihnya sekarang. Dia pun bertekad ingin seperti ayahnya, Suradi, yakni menjadi petani sukses dan menjadi dosen.

“Almarhum bapak adalah sosok petani sukses, padahal sekolah SD saja gak lulus, maka saya harus jauh lebih sukses,” tutur Ugi -sapaan akrabnya.

Sejak usia empat tahun, bapaknya meninggal dunia, tapi kenangan indah bersamanya tak akan dia lupakan. Dalam ingatannya, bapak sering membawanya ke sawah, saat bapak mencangkul, ia pun turut bermain air seorang diri. “Saat bapak mencangkul, saya pun turut sibuk dengan mainan saya,” tuturnya.

Kehidupan tanpa bapak bukan sesuatu yang mudah, dibesarkan ibunya, Mas’amah, yang hanya seorang buruh serabutan membuat perekonomian keluarga cukup sulit. Tapi Ugi tidak pernah menyerah, dia amat menyukai belajar, buku dan perpustakaan yang juga mengantarnya kepada berbagai prestasi yang dia dapatkan. Rasa suka itu pun yang akhirnya mendekatkan dia kepada takdirnya yakni pertemuannya dengan Kepala Asrama Rumah Yatim Tegal, Almarhum Darwan, yang menawarinya menjadi anak asuh mukim di Surabaya.

“Belalang yang lompatannya lebih jauh, dia akan lebih mudah mencapai tujuannya,” ucap Darwan.

Kalimat itulah yang akhirnya membuat dia berani melompat lebih jauh meninggalkan kampung halaman, meninggalkan ibu dan adiknya. “Jika ingin sukses maka saya harus pergi jauh,” tuturnya yang akhirnya tinggal di Rumah Yatim sejak tahun 2009 tepatnya saat kelas 1 SMP.

Banyak hal yang dia syukuri selama tinggal di asrama. Selain dia merasakan kasih sayang dari seorang ayah dari sosok kepala asrama, berbagai fasilitas sekolah yang dia impikan hingga cita-citanya untuk berkuliah pun dia dapatkan. Dari semua itu, hal yang paling berharga yang didapatkan Ugi adalah perlahan-lahan ia yang sering meninggalkan shalat jadi rajin shalat, menghapal Alquran hingga beberapa juz dan belajar manajemen pun menjadi pengalaman berharga berada di Rumah Yatim.

“Rumah Yatim itu all of life, ya saya  belajar semua tentang kehidupan dari Rumah Yatim. Selain itu, Alhamdulillah banyak sekali yang berjasa buat saya, salah satunya adalah Abi Ade dan Umi Susi yang selalu mendukung saya dalam segala hal, bahkan Abi rela mengantar saya jauh-jauh ke perpustakaan,” tuturnya.

Selain berbagai fasiltas, Ugi pun merasa Rumah Yatim mengajarkannya kasih sayang terutama untuk ibunya dan kedua adiknya. Dia semakin mencintai dan berusaha menjadi anak yang berbakti seperti yang diharapkan mendiang ayahnya. Menurutnya, sebelum ke Rumah Yatim, dirinya kurang baik terhadap ibunya. “Alhamdulillah sejak tinggal di sini saya lebih menghormati dan menyayangi mama,” ungkapnya.

Kini ia sudah mampu membanggakan ibunya. Sang ibu yang hanya asisten rumah tangga bisa menyaksikan anaknya menjadi mahasiswa ITB. Masuk ITB tentu butuh perjuangan, bahkan dia rela meninggalkan waktu istirahatnya untuk mendapatkan impian itu. “Kamu rela tidur di saat orang lain mati-matian mengerjakan latihan,” kata-kata dari senior bimbel semasa SMA itulah yang akhirnya memotivasi dirinya untuk bekerja keras dan ternyata kerja keras tidak pernah menghianati hasil. Gadis yang mempunyai hibi desain ini akhirnya lulus masuk ITB.

Saat ini, Ugi sudah semester 7. Menjadi mahasiswa ITB memiliki tantangan tersendiri baginya. Banyak pelajaran yang sudah dia pelajari dan siap untuk ditransfer bagi orang-orang yang membutuhkan ilmunya. Menurutnya, mempelajari setiap mata kuliah di ITB itu cukup sulit, dibutuhkan kerja keras untuk mendapatkan hasil yang bagus. Tapi  mahasiswi yang lahir pada 23 Oktober 1996 ini tidak menyerah. Hingga kini nilai IPK-nya selalu naik setiap semesternya.

“Perjuangan menjadi mahasiswa ITB berbeda dengan kampus lain, tapi Alhamdulillah IPK selalu naik,” tuturnya.

Selain itu, dia pun memiliki banyak pengalaman di keorganisasian. Saat ini dia menjabat sebagai Wakil Kepala Departement PSDM MIJ (Pengembangan Sumber Daya Manusia Muslim) ITB Jatinangor dan bagian dari Divisi Keprofesian Himpunan Mahasiswa Pasca Panen. Dia pun sudah aktif sejak semester 3 menjadikanya dipercaya dan bisa diandalkan.

“Kesenangan menjadi mahasiswa itu ketika kita aktif di kegiatan unit (nonakademik) atau di paguyuban, jadi banyak teman. Selain itu, kuliah lapangan, kunjungan industri, kerja praktik, menjadi pengalaman berharga dan bisa sambil refreshing,” ungkapnya sembari tersenyum.

Untuk itu, dia berpesan kepada adik-adiknya di Rumah Yatim untuk selalu berusaha mengejar mimpi. “Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada usaha yang terlalu kecil. Maka semakin tinggi cita-cita, harus diiringi usaha yang besar pula. Dream big study hard and sparkle more,” tutupnya.

 

Jurnalis: Enuy Nurhayati

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat