Damirah Berjuang Hidup Andalkan Kerajinan Tambir

Damirah Berjuang Hidup Andalkan Kerajinan Tambir

Di tengah pandemi ini, tak ada mimpi yang diinginkan Mbah Damirah, kecuali bisa makan di hari selanjutnya dan bertahan ditengah situasi sulit. Lansia 75 tahun asal Dusun Piji, Mertelu, Gedangsari Gunung kidul, Yogyakarta itu tak menampakkan keluh kesah pada raut wajahnya saat tim relawan Rumah Yatim cabang Yogyakarta datang menyerahkan bantuan Sembako untuk Ifthar dan sahur, pada Jum’at (8/5) lalu.

Pada situasi yang serba sulit ini, Mbah Damirah justru tidak mau merepotkan anak semata wayangnya yang juga hidup serba kesulitan sebagai buruh tani. Hal itulah yang membuatnya tidak ingin bergantung pada anaknya serta tidak mengandalkan belas kasihan dari tetangganya.

Sejak ditinggal mendiang sang suami 20 tahun lalu, Mbah Damirah memilih menjadi pembuat tambir atau tampan untuk membiayai hidupnya sendiri. Harga satu tambir sendiri dihargai 5.000 rupiah. Setiap hari ia berkeliling menawarkan dagangan hasil karyanya. Namun sejak adanya wabah menyebabkan pendapatannya menurun, bahkan nyaris tidak ada pemasukan.

“Penghasilan menjadi menurun, semula harganya 5000 per biji, menjadi 3000 per biji,” ungkapnya.

Menurutnya, kesulitan itu begitu terasa ketika dagangannya tidak kunjung laku. Sedangkan beberapa harga kebutuhan pokok terus naik.”Untuk sekedar mencari sesuap nasi sangat sulit bagi saya,” ucapnya.

Raut wajahnya berubah ketika mendapat bantuan sembako dari Rumah Yatim. Rasa haru dan syukur terpancar dari rautnya. Mbah Damirah merupakan satu dari lansia dhuafa yang terus berjuang bertahan hidup demi sesuap nasi di esok hari. Diharapkan bantuan ini dapat menjadi pelipur lara nya di tengah situasi yang sulit.

 

 

 

Dila Nurfadila

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend