Ditengah Himpitan Ekonomi Tak Menyurutkan Semangat Herni Mendirikan Sekolah

Ditengah Himpitan Ekonomi Tak Menyurutkan Semangat Herni Mendirikan Sekolah

Hidup diantara himpitan ekonomi tak menyurutkan semangat Herni Sinaria (48), untuk memajukan pendidikan di daerah tempat tinggalnya. Ibu enam anak yang berprofesi sebagai kepala sekolah tersebut nyatanya mampu mendirikan institusi pendidikan berbasis madrasah.

Bermodalkan tanah hibah dari seorang teman, Bu Yet sapaan akrabnya berjuang bersama sang Suami mendirikan MTs Humairoh HNN di kawasan Jalan Masa Karya, Gang Nenas, RT 02 RW 01, Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, pada 2013 silam.

Bukan tanpa sebab ketika Bu Yet memutuskan untuk mencetuskan dan mendirikan sekolah. Bu Yet sadar betul pendidikan memang sangat penting, khususnya bagi anak-anak. Terlebih, di sekitar pemukiman penduduk di kawasan tersebut belum ada sekolah berbasis madrasah.

“Awal berdiri sekolah ini hanya punya satu kelas dan itupun hanya berdinding kayu, seperti gubuk. Dan terkadang kami menumpang belajar di MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah),” terang Bu Yet kepada Kepala cabang rumah yatim riau, Ramdan, Rabu (22/7/2020).

Berkat usaha dan perjuangannya yang gigih. Kerja keras Bu Yet akhirnya mendapat perhatian dari sejumlah pihak yang dermawan membantu pembangunan sekolah tersebut menjadi bangunan permanen. Meski baru terdiri dari beberapa kelas, namun saat ini tergolong layak untuk belajar.

Bu Yet yang memiliki enam orang anak tersebut, terkadang merasa payah untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama suami dan anak-anaknya. Terlebih, keenam anaknya saat ini masih berstatus sebagai pelajar, baik di bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

“Itulah yang membuat sedikit kesulitan. Dan dibantu oleh sang suami seorang ustadz kalau dipanggil untuk ceramah,” tutur Ramdan menceritakan kisah Bu Yet.

Meski berprofesi sebagai kepala sekolah, namun statusnya hanyalah seorang honorer yang belum diangkat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Bisa dibayangkan, betapa sulitnya Bu Yet memenuhi kebutuhan yang hanya mengandalkan gaji honorer, namun harus menghidupi seluruh keluarganya.

“Apalagi dana dari pemerintah yang terkadang menggaji guru di rapel dalam sekali 3 bulan. Sungguh tidak masuk akal terkadang, dengan kebutuhan yang melangit dan gaji honorer yang minim bahkan tersendat,” aku Yet kepada Ramdan.

Atas semangatnya itulah, Rumah Yatim Cabang Riau memberinya bantuan melalui program guru honorer dan paket sembako, Rabu (22/7) kemarin. Selain Herni, 4 orang lainnya pun menerima bantuan serupa.

 

Jurnalis: Tanti Sugiharti

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend