Hidup Sebatang Kara dalam Keterbatasan Tak Membuat Mamik Patah Semangat Beribadah

Hidup Sebatang Kara dalam Keterbatasan Tak Membuat Mamik Patah Semangat Beribadah

Mamik Saerun (80) hidup sebatang kara di sebuah rumah sederhana dari bilik bambu. Tak ada barang-barang elektronik, bahkan untuk memasak masih menggunakan kayu bakar. Namun, ia tetap bersyukur dan rajin beribadah walau dalam keterbatasan.

Sang istri sudah lama meninggal. Keempat anaknya sudah menikah dan memilih tinggal di perantauan. Sehingga, Mamik hanya tinggal seorang diri dengan kondisi semakin melemah dan sering sakit-sakitan.

“Badannya sudah bungkuk, terkadang untuk berjalan kaki cukup kesulitan, tapi kakek tak bisaandalkan siapa-siapa,” tutur, Maria Ulfa, Relawan Rumah Yatim Cabang Nusa Tenggara Barat.

Bahkan, ia sudah tak bisa bekerja lagi. Demi memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Mamik diberi oleh anaknya yang sesekali menengok. Di samping itu, ia dapatkan dari tetangga sekitar dirinya tingga.

“Walau dalam kondisi kesehatan yang semakin menurun, kakek Mamik selalu rajin ke masjid setiap waktu shalat,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Rumah Yatim Cabang NTB memberikan bantuan peduli sesama bagi Mamik, pada Selasa (14/7). Bantuan tersebut dibagikan bersamaan dengan bantuan program biaya hidup bagi masyarakat prasejahtera lainnya.

“Sebanyak 25 program bantuan biaya hidup dan 25 bantuan peduli sesama telah disalurkan di Dusun Beririjarak Utara, Desa beririjyarak, Kec. Wanasabe, Kab. Lombok Timur. Mereka adalah para lansia yang tidak bisa bekerja dan kurang mampu, harapnnya bantuan ini bisa meringankan bebannya,” pungkas Ulfa.

 

 

 

Penulis Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend