Hidup Sebatang Kara, Pemulung di Medan Dapat Bantuan Rumah Yatim

Hidup Sebatang Kara, Pemulung di Medan Dapat Bantuan Rumah Yatim

Senin (28/10) lalu, Rumah Yatim Cabang Medan menyambangi kediaman Lasminar Sianipar. Ia adalah seorang pemulung berusia 56 tahun. Lansia ini hidup sebatang kara, di Link VII, Kelurahan Tangkahan Medan Labuhan, Kota Medan. Kunjungan yang dilakukan Rumah Yatim untuk memberikan bantuan peduli sesama kepada Lasminar.

Dari pantauan tim relawan Rumah Yatim Medan, Ibnu, dia tengah terkena penyakit kulit sejak masih anak-anak. Sehingga keluarganya merasa malu memiliki anggota keluarga yang penyakitan. Kemudian, Lasminar menumpang di rumah milik orang lain yang sudah tidak terpakai dan hidup sebatang kara sejak usia belia.

“Dia menjauh dari keluarganya, karena keluarganya malu dia punya penyakit kulit, jadi dia pergi menjauh. Lasminar ini layak kita bantu karena hidupnya hanya seorang diri,” tutur Ibnu.

Sejak usia belia itulah, Lasminar membiayai dirinya sendiri dengan memulai bekerja sebagai pemulung. Sedangkan, penghasilannya hanya 300 ribu rupiah perbulan jika hasil memulungnya banyak. Jika sedikit maka hanya menghasilkan 50 ribu rupiah perbulan. Menurutnya, nominal tersebut sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan biaya hidup sehari-hari.

Namun tidak banyak yang bisa dilakukan Lasminar selain memulung. Kulit yang telah rusak tak memungkinkan diriya mencari pekerjaan lain. Bisa makan sehari pun sudah sangat disyukuri, tanpa meminta-minta atau mengemis. Kendati demikian, bantuan yang diberikan oleh Rumah Yatim ini diharapkan dapat membantu dan menjadi penyambung hidupnya dari hari ke hari.

 

 

 
Jurnalis: Dila Nurfadila
Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend