Kemarau Panjang, Buruh Tani Gulung Tikar dan Beralih Profesi

Kekeringan akibat kemarau panjang kini sedang melanda beberapa wilayah di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Kemarau panjang ini telah membuat ratusan petani gulung tikar dikarenakan tanaman padi mereka mengering dan mati akibat tidak dialiri air, beberapa bulan terakhir ini.

Tidak hanya petani, para buruh tani yang berperan membantu para petani kini mesti beralih profesi menjadi pemetik cengkeh dan pengrajin anyaman bambu dengan penghasilan hanya 300 ribu sampai 450 ribu perbulannya.

“Mau gimana lagi, para petani tidak mampu mempekerjakan kami dikarenakan mereka tidak bisa memberi kami upah, kami pun terpaksa menjadi pengrajin anyaman supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ungkap Sami (65), salah satu buruh tani asal Dusun Ngentak, Banjararum, Kalibawang, Yogyakarta.

Bersama suaminya, ia membuat anyaman dari bambu. Penghasilan keduanya yang hanya 400 ribu perbulan dicukup-cukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan Sarinah (18) anak bungsu mereka yang menderita tunawicara.

Meskipun Sami mesti menjalani kehidupan yang serba sulit, ia tetap semangat bekerja dan tidak pernah mengeluh akan hidupnya. Ia juga tidak meminta belas kasihan kepada tetangga maupun warga sekitar.

Sami merupakan salah satu warga di Kelurahan Banjararum, Kalibawang, Kab. Kulonprogo, Yogyakarta yang menerima bantuan sembako dari Rumah Yatim Area Yogyakarta, Selasa (11/9) lalu. Selain Sami, masih ada 199 orang warga yang juga telah menerima bantuan ini.

Dengan wajah bahagia bercampur haru, ia mengatakan jika bantuan ini sangatlah membantunya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. “Matur nuwun kanggo Rumah Yatim dan para donatur atas kepedulian dan kebaikannya kepada kami, bantuan ini sangat berarti untuk kami. Semoga Gusti Allah membalas semua kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda,” ungkapnya.

 

Jurnalis: Sinta Guslia

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend