Kondisi SD Memprihatinkan, Rumah Yatim Beri Bantuan Perlengkapan Sekolah

Berada di daerah pelosok Indonesia, sebuah bangunan berdiri sejak 1974 yang dikelilingi perkebunan sawit, beralaskan tanah, beratapkan papan keropos yang dapat runtuh setiap saat. Itulah yang menggambarkan kondisi bangunan SD Swasta Al Washliyah Moho di Jalan Masjid Al Barokah, Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi, Kabupaten Simalungan, Sumatera Utara.

Jarak tempuh dari pusat kota memakan waktu sekitar tiga hingga empat jam. Pada kesempatan ini, tim Rumah Yatim Cabang Medan mendatangi sekolah tersebut, Sabtu (27/7). Hal ini dilakukan untuk survei kondisi bangunan, para siswa serta gurunya. Sekaligus memberikan bantuan peralatan sekolah untuk kebutuhan sarana operasional sekolah.

“Kalau saya lihat, dari tampilan luar sangat memprihatinkan, lantai di ruang guru maupun kelas beralaskan tanah, bangunan bilik, atap hampir semuanya bolong,” jelas Kepala Cabang Rumah Yatim Medan, Harun.

Bahkan, menurut pemaparan salah seorang guru, sambung dia, ketika hujan tiba, seluruh siswa dan guru harus bergotong royong menggeser meja dan kursi. Terlebih saat hujan lebat, ruang kelas dapat menjadi banjir sehingga mengganggu aktivitas belajar mengajar.

Bahkan yang lebih memprihatinkan, kata Harun, pernah suatu waktu, salah satu bangunan kelas sempat ambruk saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Bersyukur tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Selain itu, kondisi latar belakang siswa hampir semuanya dalam kategori tidak mamp. Para siswa menggunakan seragam seadanya, serta kondisi fisik yang kurang terurus. Meski begitu, semangat para siswa tersebut sangat tinggi. Bahkan siswa tidak dipungut biaya sepeserpun untuk bisa bersekolah.

“Mereka tidak minder sama sekali dengan kondisi sekolah seperti ini. Tetapi semangat mereka luar biasa sangat tinggi, para gurunya juga luar biasa dalam mengajar dan mendidik,” paparnya.

Kemudian untuk kebutuhan sarana operasional sekolah, para guru hanya mengandalkan dana BOS dari pemerintah serta para donatur. Apabila dana tersebut tidak cukup, maka jaminannya adalah gaji para guru yang dipotong untuk memenuhi kebutuhan sarana operasional sekolah. Gaji para guru pun hanya 300 ribu rupiah per tiga bulan sekali.

Berbagai upaya telah diajukan pada pemerintah setempat. Hingga saat ini, belum ada upaya kepedulian dari pemerintah pusat maupun daerah terhadap kondisi yang memprihatinkan itu. Ia berharap, Rumah Yatim dapat membantu memperbaiki kondisi ini, bahkan dapat membangun sekolah menengah pertama di wilayah tersebut. Karena lokasi antara SMP dan SD sangat berjauhan.

 

Di tulis oleh : Dila Nurfadila Pada tanggal 2018-07-30 19:35:27

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend