Lansia Korban Gempa Lombok Didik Anak Cucunya Jadi Juara Qori

Meski raganya sudah termakan usia. Penglihatan dan pendengarannya masih tajam. Seorang lansia prasejahtera asal Kampung Jeruk Manis, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara memiliki keseharian yang tidak biasa. Setiap hari, ia mengajar mengaji kepada anak cucunya hingga menjadi qori dan qoriah tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dia adalah Papus Abdurrahman atau yang biasa disapa Papus Sapidin, meski kondisinya mengalami banyak keterbatasan karena termakan usia, semangatnya untuk mengajarkan anak dan cucunya hingga mencapai gelar juara tak pernah padam. Lansia berusia 95 tahun ini telah memiliki 16 anak dari 3 istrinya yang telah meninggal dunia.

Menurut pantauan tim relawan di lapangan, Salma Hasanah menyebutkan, hampir semua anak dan cucunya menjadi qori dan qoriah tingkat Kabupaten maupun Provinsi. Oleh karena itu, membawa kebanggan tersendiri baginya, meski kondisi ekonominya berada di garis prasejahtera. Hal itu tak membuatnya lalai dalam mendidik anak dan cucunya.

“Yang pernah ikut hampir semua dapat penghargaaan di provinsi, mulai dari juara 1, 2, dan 3 pernah ikut perlombaan MTQ di Provinsi NTB,” jelasnya.

Kini untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, ia hanya mengandalkan dari anak-anak lainnya. Dulu ia bekerja sebagai buruh tani di kampungnya. Namun di usia senjanya, kini tak mampu lagi membuatnya untuk berdiri lama. Sehari-hari ia menggunakan bantuan tongkat untuk berdiri dan berjalan.

Untuk ke depannya, kata Salma, Rumah Yatim Cabang Mataram NTB, akan memberikan bantuan kursi roda untuk lansia yang juga menjadi saksi hidup di zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Namun dampak gempa tersebut membuat rumahnya rusak. Saat ini ia masih menempati sisa sebagian rumahnya yang masih utuh.

“Sebelum tidur dan bangun tidur, dia selalu baca Quran. Penglihatannya masih bagus, pendengarannya juga masih normal. Cuma gak bisa berjalan saja,” ujarnya.

Menurut Salma, lansia tersebut menginginkan tempat tinggal yang nyaman untuk menghabiskan waktu di masa senjanya. Sehingga diharapkan Rumah Yatim dapat membantunya untuk mewujudkan asanya bersama anak dan cucu.

 

Jurnalis: Dila Nurfadila

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend