Lansia Sebatang Kara Penjual Sapu Lidi di Leksono Wonosobo Terharu Dapat Bantuan dari Rumah Yatim

Usia Maini memang sudah tidak muda lagi yakni 60 tahun, namun diusia itu ia masih harus banting tulang untuk bertahan hidup.

Di sebuah rumah sederhana di Desa Sidokolo, Kecamatan Leksono, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, ia tinggal seorang diri.

Meski tubuhnya sudah sangat lemah dan sering terbaring sakit karena penyakit asam uratnya, Maini tetap harus jualan demi sesuap nasi. Setiap pagi, Maini berangkat ke kebun kelapa milik tetangga untuk meminta pelepah kelapa yang merupakan bahan utama membuat sapu lidi.

Dalam sehari, lansia tersebut hanya mampu membuat tiga buah sapu lidi yang ia jual dengan harga 5 ribu rupiah per-ikatnya.

Usai membuat sapu lidi, Maini langsung keliling desa untuk menjajakan sapu lidi buatannya. Jika sedang beruntung, ketiga sapu tersebut bisa terjual habis, namun jika sedang sepi pembeli, sapu lidinya hanya terjual satu, bahkan tidak sama sekali.

“Kalo ada yang beli Alhamdulillah, karena akhirnya nenek bisa beli beras. Tapi seringnya ga ada yang beli, jadi nenek harus sabar buat terus puasa,” lirihnya sambil terisak.

Bagi Maini, makan dengan nasi disertai lauk merupakan suatu hal yang berharga sangat jarang ia nikmati. Penghasilannya yang kecil dan tidak menentu membuatnya harus sering puasa, jika makan pun hanya dengan jagung kering yang ia olah menjadi nasi jagung.

“Nenek pengen sekali makan sama nasi dan teman nasinya, nenek juga pengen beli obat buat penyakit asam urat nenek, udah lama sekali nenek ngga berobat, kaki nenek sudah semakin sakit,” ujar Maini.

Diketahui, sudah lama suami Maini meninggal dunia, sementara anaknya merantau dan tak pernah ada kabar apapun darinya, mengirim kebutuhan untuk Maini pun tak pernah ada.

Sebagai bentuk kepedulian dan perhatiannya, Rumah Yatim area Yogyakarta menyambangi kediaman Maini guna memberikan bantuan biaya hidup berupa uang tunai.

Diharapkan bantuan ini bisa memberikan kebahagiaan, meringankan beban, serta membantu memenuhi kebutuhan harian dan pengobatan Maini.

Raut wajah bahagia bercampur haru ditunjukan Maini ketika menerima bantuan tersebut. Tak lupa ia pun mengucapkan terima kasih dan mendoakan untuk kebaikan Rumah Yatim dan donatur yang telah membantunya.

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend