Mak Timah Hidup Sebatangkara dan Bertahun-tahun Menahan Sakit

Sutimah namanya, usianya kini kurang lebih 80 tahun. Ketika ditanya usia, ia sudah tidak bisa mengingat lagi. Sejak ditinggal suaminya menikah dengan wanita lain, ia hidup berdua bersama anaknya. Menjadi seorang single parent tentu tidaklah mudah, namun dengan penuh kasih sayang, ia rawat anaknya yang kala itu masih kecil hingga kini tumbuh dewasa, dan akhirnya sudah menikah.

Panggilan akrabnya Mak Timah, ia tinggal di Dusun Palasah, Desa Palasari, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang. Ia hidup sebatangkara di dalam sebuah rumah kecil yang sudah lapuk, dindingnya terbuat dari anyaman kayu, dan beralaskan kardus. Sekilas rumah itu terlihat tidak berpenghuni.

Kondisi ekonomi yang kurang, membuat Mak Timah harus hidup dalam segala keterbatasan. Hingga suatu hari, ia mulai merasa ada benjolan kecil di pipinya. Awalnya ia mengabaikan, namun hari demi hari benjolan tersebut semakin membesar dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

Mak Timah mengungkapkan, andai saja dulu ia melakukan operasi, penyakit itu masih bisa terobati dan mungkin tak akan tumbuh membesar. Sayangnya, ia tidak memiliki biaya yang cukup untuk membayar biaya pengobatan.

Sudah bertahun-tahun, ia menahan rasa sakit, seringkali dirinya tak kuasa menahan rasa sakit itu yang datang scara tiba-tiba. Benjolan di pipi kirinya semakin tumbuh membesar, dan seringkali membuatnya ingin segera mengakhiri hidup. “Kalau lagi kambuh, pengen Nenek potong pakai pisau,” katanya.

Di usianya yang sudah senja, ia terpaksa hidup sendiri. Sebab anak perempuannya kini sudah menikah dan tidak bisa merawat Mak Timah. Tinggal di rumah yang sudah tidak lagi layak, ia bertahan hidup sendirian dengan menanggung rasa sakit. Mak Timah hanya berharap setiap harinya mendapatkan sesuap nasi. Namun beruntung, banyak tetangga yang mengasihinya.

 

 
Jurnalis: Tanti Sugiharti
Redaktur: Anjar Martiana

Related posts

Leave a Comment

Open chat