Meski Hidup dalam Himpitan Ekonomi, Beni Tetap Pilih Jadi Mualaf

Meski Hidup dalam Himpitan Ekonomi, Beni Tetap Pilih Jadi Mualaf

“Saya ingin menjadi lebih baik lagi, saya merasa lebih nyaman menjadi mualaf (islam), meskipun kehidupan saya seperti ini, merasa lebih luas aja. Bisa dirasain tapi susah diungkapkan,” kata Beni sambil tersenyum lebar, kepada Relawan Rumah Yatim Cabang Pontianak, pada Rabu (13/5) lalu.

Sudah 7 tahun ini, Beni (38) memilih jalan menjadi seorang mualaf. Meskipun hidup dalam keterbatasan dan himpitan ekonomi, terlebih dihujat, dibenci bahkan diusir keluarganya sendiri. Ia tetap teguh dan istiqomah memilih Islam sebagai agamanya. Kegiatan sehari-harinya, Beni bekerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan biaya hidupnya sendiri. Namun penghasilan yang didapat sangat terbatas.

Bahkan yang lebih memprihatinkan, laki-laki yang tinggal di Jalan Adisucipto, Gang Parit Bugis, Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai raya, Pontianak itu, sempat sahur hanya dengan seteguk air tanpa nasi dan lauk pauknya. Lantaran tidak punya uang untuk membeli sembako. Penghasilan yang didapatkan dari hasil memulung harus nafkahkan kepada kakak dan anak kakanya. Meski demikian, ia tetap semangat menjalani ibadah puasa.

“Saya pemulung, sehari saya bisa mendapatkan 17.000 hingga 25.000. Dengan keadaan pandemi seperti ini saya bingung mau gimana lagi. Kemarin saya puasa ga sahur cuman minum air putih saja, jadi saya kemari ke Rumah Yatim untuk meminta bantuan,” terangnya

Menurutnya, penghasilan tersebut tidak cukup untuk dibagi tiga orang. Namun tidak ada pilihan lain ketika harus hidup seadanya. Raut wajahnya berubah antusias dan sumringah, ketika Rumah Yatim cabang Pontianak memberikan program santunan muallaf. Hidup dalam himpitan ekonomi, membuat Beni kesulitan untuk memenuhi kebutuhan nya saat berbuka puasa dan sahur.

“Alhamdulillah sangat senang, baru pertama kali dikasih bantuan seperti ini. Mohon maaf dan terima kasih banyak kepada Rumah Yatim. Saya sudah bingung mau gimana lagi tuturnya,” pungkasnya.

 

 

 

Penulis: Dila Nurfadila

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend