Muhamamad Dio, Bocah Malang Penderita Eritroderma Autoimun

Muhamamad Dio, Bocah Malang Penderita Eritroderma Autoimun

 

Malang nian nasib Muhammad Dio. Seorang anak yatim berusia 6 tahun asal Kampung Sirna Hurip, RT 25 RW 06, Desa Neglasari, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi tersebut menderita penyakit Eritroderma Autoimun.

Ertitroderma autoimun merupakan sejenis penyakit yang menyebabkan lesi mirip luka bakar pada kulit, yaitu kulit yang memerah mengelupas dan terasa sangat menyakitkan. Penyakit tersebut diduga ada kaitannya dengan sistem kerja imun (autoimun) yang lemah.

Penyakit itu bermula ketika ia menginjak usia 3 tahun. Saat itu tiba-tiba dibagian tubuhnya muncul benjolan atau bintik kecil, lama-lama benjolan tersebut mengeluarkan cairan dan menimbulkan rasa gatal yang tidak tertahankan sekaligus perih. Atas kondisi itulah, Neneknya Dio berinisiatif untuk memanggil mantri atau petugas kesehatan.

“Karena rumahnya di desa terpencil dan hanya ada puksesmas, saat itu awal tahun baru 2018 jadi puskesmas tutup semua, akhirnya manggil mantri,” tutur Relawan Rumah Yatim, Yussica saat diwawancarai, Rabu (17/6).

Setelah Dio menjalani pemeriksaan, kemudian mantri tersebut memberinya tiga macam obat. Namun selang beberapa hari kemudian bintik-bintik itu semakin menjalar ke tubuhnya Dio disertai dengan cairan dan rasa gatal yang semakin kuat.

Naas, kondisi Dio semakin memburuk. Namun setelah menjalani perawatan, Dokter mengatakan bahwa itu bukan karena keracunan obat, namun disebabkan oleh sistem imun Dio yang lemah.

Sejak saat itulah Dio tak lagi bisa merasakan tidur nyenyak. Sebab seluruh badannya terasa gatal, sakit, dan panas. Bahkan untuk kegiatan sehari-hari saja ia selalu memakai baju batik ukuran besar milik sang bibi, sebab ia tak bisa memakai baju seukuran tubuhnya karena ketika bintik itu menempel pada kulitnya, maka akan menyebabkan keluarnya cairan dan menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa.

“Akhirnya kalau dia tidur dialasin daun pisang, karena benjolan itu bisa pecah kemudian keluar cairan, dan itu bisa nempel di kasur dan menyebabkan sakit yang luar biasa,” tambahnya

Atas kondisinya tersebut, Dio tidak bisa sekolah seperti anak pada umumnya. Jangankan untuk sekolah, bermain bersama teman sebayanya pun tidak bisa. Bahkan para tetangganya banyak yang mengucilkan Dio karena mereka takut tertular. Padahal penyakitnya itu sama sekali tidak menular.

“Permintaan dia simple banget pengen pake baju, kemarin ada yang beliin baju tapi gak bisa dipake. Lalu Dio juga bercerita dia ingin sekolah dan main,” tuturnya.

Meski demikian, Dio beruntung memiliki seorang Nenek dan Kakek yang senantiasa merawat Dio dengan penuh rasa sabar, dan kasih sayang.

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, Dio, Nenek, Ibu, serta Bibinya hanya mengandalkan penghasilan dari Kakeknya yang hanya bekerja sebagai buruh kuli bongkar batu, dengan penghasilan tidak lebih dari 40ribu. Pria berusia 56 tahun tersebut setiap hari harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Untuk obatnya seminggu habis sejuta setengah, tapi alhamdulillah banyak bantuan dari donatur perseorangan yang sayang sama Dio,” imbuhnya.

Melihat kondisinya tersebut, Rumah Yatim area Jawa Barat memberinya bantuan peduli sesama pada Minggu (14/6) kemarin. Bahkan, rencananya Rumah Yatim akan membantu proses pengobatan Dio sampai sembuh.

“Kondisinya ketika sudah banyak benjolan di sekujur tubuh, tapi pas mau sembuh muncul lagi. Kita konsultasi sama salah satu dokter di Medan, udah bawa ke Jogja nanti di bantu Rumah Sakit dan di rukiyah,” terang Yussica.

 

 

Penulis : Tanti Sugiharti

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend