Perjuangan Endang Sebagai Pengayak Krikil untuk Bertahan Hidup

Perjuangan Endang Sebagai Pengayak Krikil untuk Bertahan Hidup

Endang (68), tinggal seorang diri di rumah sederhana berdinding kayu, dan beralaskan semen, di Kampung Makmur RT 14, Juata Krikil, Juata Laut, Tarakan Utara. Suaminya telah meninggal dunia beberapa tahun lalu. Dalam kesederhanaan, ia terus bertahan dan berjuang dengan kondisi fisik yang semakin menua.

Diketahui, ia hanya memiliki seorang anak perempuan. Namun, anak satu-satunya itu ikut bersama suaminya ke kota. “Jadi ibu Endang ini sebatang kara berjuang hidup untuk dirinya sendiri,” kata Rahmat., Kepala Cabang Rumah Yatim Tarakan.

Aktivitas sehari hari yang dijalani Endang, ialah sebagai pengayak krikil. Penghasilan dari menjual krikil tersebut sekitar 200 ribu rupiah perkubik. Namun, karena keterbatasan tenaga dan usia pekerjaan yang ia geluti saat ini tidak maksimal. Ia hanya meraup rezeki seadanya.

“Untuk mendapatkan satu kubik krikil itu bisa memakan waktu hingga satu minggu lamanya,” ungkapnya.

Walau terkadang pendapatannya itu tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Namun, ia tetap semangat bekerja di usia senjanya. Melihat hal itu, Rumah Yatim Cabang Tarakan memberikan bantuan biaya hidup bagi Endang dan belasan pengayak krikil lainnya, pada Minggu (12/7). Rahmat berharap, bantuan ini bisa bermanfaat bagi keberlangsungan hidup mereka ke depannya.

“Mudah-mudahan mereka disehatkan selalu agar bisa terus berjuang hidup walau seorang diri. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban mereka” pungkasnya.

Selain Endang, Rumah Yatim Kalimantan Utara pula memberikan bantuan kepada 13 orang lainnya di wilayah tersebut. Bantuan diberikan untuk membantu mengurangi beban kebutuhan hidup, terutama saat ini di tengah pandemi wabah Covid-19.

 

 

 

Penulis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend