Perjuangan Nenek Mahye Hidup Sebatang Kara di Rumah Tak Layak Huni

Di usia yang telah menginjak 81 tahun, Mahye berjuang menjalani hidupnya seorang diri. Empat tahun lalu, suaminya pergi meninggalkan Mahye untuk selama-lamanya. Kini, ia hanya tinggal di sebuah rumah tak layak huni.

“Atapnya sudah bocor dan lantai papan telah lapuk. Kondisi rumahnya memprihatinkan sekali,” kata Kepala Cabang Rumah Yatim Pontianak, Rohim.

Diketahui, Mahye memiliki tiga orang anak. Namun, ketiga anaknya tersebut memilih untuk hidup mandiri. “Anaknya pada pisah rumah, tapi masih di daerah yang sama, jadi cukup dekat rumahnya,” tambahnya.

Untuk makan sehari-hari, Mahye hanya bisa mengandalkan anak-anaknya. Karena, dirinya sudah tidak mampu bekerja lagi. Dahulu, ia merupakan seorang petani.

Saat ini, kondisi fisiknya sudah semakin melemah, sehingga ia hanya mampu mengerjakan apa yang dia bisa. Salah satunya, mengupas pinang dan menjualnya. “Penghasilan yang didapat tidak menentu, berkisar antara 5 – 10 ribu rupiah perhari,” tuturnya.

Menurut Rohim, meski penghasilannya tidak seberapa, namun Mahye selalu bersyukur. Bahkan, ia pun tak lupa untuk selalu membaca Alquran. Saat tim Rumah Yatim mengunjungi kediamannya di Desa Arang Limbung Kecamatan Sungai Raya, Gang Besar RT 003 RW 07, Kabupaten Kubu Raya didapati Mahye sedang membaca kitab suci tersebut.

Demi mendukung Maye di usia senjanya, Rumah Yatim memberikan bantuan biaya hidup, pada Senin (28/12) lalu. Bantuan itu guna membantunya memenuhi kebutuhan pokok, agar Mahye bisa terus bertahan hidup.

Rohim berharap, apa yang Rumah Yatim berikan ini bisa bermanfaat. Serta dapat meringankan beban Mahye. “Semoga nenek Mahye sehat terus dan dilimpahkan rezeki yang banyak,” harapnya.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend