Perjuangan Saodah Merawat Anak yang Lumpuh Saraf Otot Sejak Lahir

Memiliki anak yang terlahir lumpuh, membuat Saodah harus ekstra berjuang. Apalagi, keadaan ekonomi yang sangat terbatas membuat dirinya banting tulang bekerja kasar.

Setiap harinya, keringat bercucuran dari tubuh Saodah, yang mencari sesuap nasi lewat membelah batu. Hal itu ia lakukan demi anaknya, Ekawati, yang menderita penyakit lumpuh saraf otak.

Penyakitnya itu membuat Ekawati tak bisa bergerak. Tubuhnya kaku, dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ia pun tak bisa berbicara sama sekali.

Keadaan tersebut dialami sejak lahir hingga kini usianya memasuki 18 tahun. “Sudah hampir 18 tahun dia hanya bisa tidur, kondisinya memang sangat mengkhawatirkan sekali,” ujar Kepala Cabang Rumah Yatim Nusa Tenggara Barat, Hamdani.

Ia menambahkan, Ekawati tak pernah mendapatkan pengobatan dikarenakan keadaan ekonomi yang terbatas. “Untuk makan saja terkadang kesulitan, apalagi untuk biaya pengobatan, padahal Ekawati sangat membutuhkan perawatan intensif agar kondisinya tidak kian memburuk,” ungkapnya.

Sebagai seorang ibu, Saodah tak pernah berhenti berjuang demi putrinya itu. Dari mulai menyuapi hingga menggendong ke kamar mandi, ia lakukan. Namun, ia juga selalu merasa khawatir ketika Ekawati ditinggal Saodah pergi bekerja.

“Kalau ibunya bekerja, Ekawati seorang diri di rumah, dan dia tidak bisa melakukan apapun,” tuturnya. Saodah tak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi, karena suaminya sudah meninggal dunia.

Melihat hal itu, Rumah Yatim Cabang NTB memberikan bantuan biaya hidup dan sembako, pada Senin (15/3). Bantuan yang diberikan sebagai bentuk kepedulian donatur Rumah Yatim terhadap mereka.

Harapannya, lanjut dia, dengan adanya bantuan tersebut bisa sedikitnya meringankan beban Saodah. Selain itu juga, agar Ekawati terpenuhi kebutuhan gizi dan nutrisinya.

“Mudah-mudahan bermanfaat dan mereka merasa terbantu. Semoga Ekawati bisa segera membaik, dan ke depannya mendapat pengobatan agar bisa beraktivitas seperti anak seusianya,” tutup Hamdani.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend