Puluhan Tahun Berdiri, Siswa SD Al Washliyah Berharap Sekolahnya Diperbaiki

Siswa SD Al Washliyah telah menaruh harapan besar kepada tim Rumah Yatim Cabang Medan saat kunjungannya pada Minggu (10/2) lalu. Hal ini agar bisa memperbaiki sarana sekolahnya yang telah berdiri puluhan tahun itu. Keinginan para siswa ini karena mereka ingin bersekolah dan belajar dalam keadaan nyaman.

Puluhan tahun lamanya sekolah tersebut berdiri di Kecamatan Moho, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara belum pernah ada perbaikan sedikitpun. Dikarenakan minimnya biaya operasional sekolah. Kepala Cabang Medan Dasep menuturkan, berupaya untuk melakukan penggalangan dana agar bisa membantu sekolah tersebut.

Menurutnya, sekolah itu belum terjamah oleh pemerintah setempat. Sehingga kata dia para siswa sangat menaruh harapan besar kepada Rumah Yatim. Kepada tim relawan beberapa siswa menceritakan tentang sekolahnya dan mereka menginginkan sekolahnya diperbaiki. Serta memiliki pagar agar hewan ternak tidak masuk ke sekolahnya, karena hal itu cukup mengganggu dalam belajar.

“Ada anak yang cerita begini ‘kakak kita ingin sekolah kita dibuatkan pagar karena binatang ternak suka pada masuk’. Mudah-mudahan kita bisa bantu,” terangnya.

Saat kunjungan tim relawan yang kedua kalinya pun tidak ada perubahan, masih seperti pertama kali tim relawan datang mengunjunginya tahun lalu. Atap banyak yang berlubang, semua lantai beralaskan tanah dan dinding terbuat dari papan yang telah lapuk dimakan rayap.

Bahkan ada siswa bercerita kepada relawan bahwa para siswa itu sering dibully karena bangunan sekolahnya tidak seperti di sekolah negeri yang jauh lebih bagus. Selain itu, gaji para guru pun dinilai kurang, bahkan seringkali gaji guru dipakai untuk menutupi kebutuhan operasional sekolah.

“Sampai ada yang bilang juga ke saya kalau mereka sering dibully karena sekolahnya jelek tidak seperti dinegeri. Kita ngobrol sama gurunya insya Allah kita akan kerjasama terus, kita akan coba bantu lewat donatur kita untuk perbaikan sekolahnya,” papar Dasep saat dihubungi via telepon.

Ketika musim hujan tiba, kata dia, aktivitas belajar mengajar di sekolah tersebut terpaksa harus diliburkan. Hal itu karena atap bangunan yang bocor sehingga banyak sekali yang berlubang. Bahkan pernah ada kejadian atapnya roboh. Ia menambahkan, anak-anak merasa senang saat kedatangan tim relawan, mereka menaruh harapan dan semangat untuk diperbaiki sekolahnya agar tidak lagi menerima bullying. “Ada anak yang bilang gini, ‘Kakak kalau balik lagi ke sini, kakak sudah bisa bantu bangunin sekolah kita ya, biar kita gak dibully lagi,” pungkasnya.

 

Jurnalis: Dila Nurfadila

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend