Anak di Gaza telah kehilangan masa kanak-kanak, yang seharusnya bisa mereka nikmati dengan keriangan dan kehangatan. Pola kekerasan yang dialami anak-anak Palestina mengakibatkan dampak psikologis yang sangat serius dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memulihkannya.

Serangan kekerasan perang  menimbulkan dampak psikologis bagi anak-anak Gaza yang akan terbawa sepanjang hayat. Mereka bukan hanya mendengar deru pesawat tempur dan ledakan bom yang menakutkan, tapi juga menyaksikan bagaimana rumah mereka hancur, serta ayah, ibu dan saudara-saudara mereka meninggal.

Mengobati luka psikologis anak-anak Gaza adalah tugas berat. Selain itu, mereka yang telah kehilangan orangtua dan saudara, sehingga tak ada jaminan pasti untuk bermimpi raih cita-cita di masa yang akan datang.

Kondisi ini diperparah dengan adanya blockade besar-besaran dari pemerintah Zionis sehingga menyulitkan anak anak Gaza mendapatkan suplai makanan, pakaian, dan sejumlah kebutuhan dasar hidup lainnya.

Rumah Yatim sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) sekaligus sebagai salah satu Lembaga Pengelolaan Yatim terbesar di Indonesia terus mengupayakan pemenuhan hak -hak anak yatim. Bukan hanya di Indonesia tapi di berbagai belahan bumi yang mengalami krisis dan konflik kemanusiaan seperti halnya di Palestina.

“Sebelumnya Rumah Yatim telah menjalin kerjasama yang aktif dengan seorang aktivis kemanusisaan asal Indonesia yang sudah lebih dari 10 tahun menetap di Gaza Palestina. Ialah Abdillah onim, yang sering disapa Bang Onim. Bantuan Rumah Yatim telah dilakukan secara kontinyu, baik berupa pangan, obat-obatan, pakaian, juga sarana air bersih,” tutur Direktur Pemberdayaan Rumah Yatim, Timbul Yuwoni saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Ia menambahkan, Rumah Yatim saat ini akan segera meluncurkan program spesifik terbaru untuk membantu anak -anak yatim Palestina di Gaza. Ada sekitar 28 ribu anak di sana. Bekerjasama dengan Yayasan Nusantara Palestina yang telah resmi didirikan oleh Bang Onim, Rumah Yatim akan meluncurkan gerakan Orangtua Anak (Orta) Palestina.

“Kami membuka kesempatan amal shaleh kepada seluruh masyarakat dunia, khususnya muslim Indonesia yang ingin menjadi orangtua asuh bagi anak anak Palestina, dengan biaya 600 ribu rupiah perbulan. Kita sudah bisa mendanai satu orang anak yatim yang berusia antara 6 bulan sampai usia 14 tahun. Biaya ini diperuntukan untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakaian, pendidikan dan kebutuhan dasar lainnya setiap bulan. Semoga kita bisa menjadi tetangga Rasulullah di Surga nanti dengan washilah amal shalih ini,” pungkasnya.

Program Orta Palestina mulai direalisasikan hari ini, Kamis (20/9), yang bertepatan dengan 10 Muharam 1440 Hijriyah, yang mana dikena dengan momen Lebaran Yatim.

 

Penulis: Abdurrahman

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat