Rumah Yatim Kembali Sambangi Kediaman Koweng Guna Beri Bantuan untuk Penuhi Kebutuhan Hidupnya

Di usia senjanya, kondisi fisik Koweng (80) sudah lemah dan sering terbaring sakit. Namun, ia harus banting tulang seorang diri untuk bertahan hidup. Diketahui, suaminya telah meninggal dunia sejak 10 tahun yang lalu.

Di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak, ia tinggal sebatang kara. Setiap harinya, Koweng membuat sapu lidi dari blarak kelapa yang ia jual dengan harga 5 ribu rupiah per-ikat.

Koweng hanya mampu membuat 5 sampai 10 ikat sapu lidi setiap minggunya. Ia berjualan sapu lidi ke pasar dengan berjalan kaki hampir 4 kilometer dari rumahnya. Dia pun harus bangun pukul 4 pagi untuk bisa sampai ke pasar terdekat.

Untuk membuat sapu lidi tersebut, Koweng harus mengambil pelepah kelapa sendiri yang tidak jauh dari rumahnya. Perjuangannya itu ia lakukan sendirian tanpa kenal lelah, karena dirinya tak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi.

Pada Senin (16/8), Rumah Yatim Cabang Nusa Tenggara Barat kembali menyambangi kediaman Koweng di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Kunjungannya kali ini sama seperti sebelumnya, yakni memberikan bantuan biaya hidup dan bahan pokok.

Menurut Kepala Cabang Rumah Yatim NTB, Hamdani mengatakan, Koweng hanya memiliki satu orang anak perempuan yang sekarang sudah menikah dan tinggal bersama suaminya. Diketahui, anaknya sudah jarang sekali menengok.

Melihat hal itu, Hamdani berharap nenek Koweng selalu sabar dan tegar menghadapi ujian ini. Harapannya, kata dia, bantuan dari Rumah Yatim bisa meringankan bebannya.

“Semoga dengan adanya bantuan tersebut bisa membuat nenek tak bersedih lagi, InsyaAllah bantuannya sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup nenek Koweng ke depannya,” tandas Hamdani.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend