Sebatang Kara dengan Keadaan Ekonomi Sulit, Papuk Saidi Tinggal di Gubuk 3×4 Meter

Papuk Saidi adalah seorang lansia yang hidup sebatang kara di sebuah gubuk yang jauh dari kata layak. beberapa tahun lalu, istri tercintanya meninggal dunia saat melahirkan anak pertama mereka. Namun, selang beberapa bulan kemudian anaknya pun meninggal dunia.

Saat ini ia harus bertahan hidup seorang diri. Meski tubuhnya sudah cukup lemah dan sering terbaring sakit, namun Saidi tak bisa terus berdiam. Ia harus tetap bekerja demi mendapat sesuap nasi.

Setiap harinya, ia bekerja sebagai penjaga irigasi di Desa Sigerongan, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Diketahui, Saidi hanya mendapat upah 5 ribu rupiah. Selain itu, ia juga mengumpulkan plastik yang ada di pembuangan irigasi untuk kemudian dijual.

“Dari hasil mengumpulkan plastik itu, perkilonya hanya seribu rupiah, dan papuk Saidi rata-rata mengumpulkan 5 kilogram plastik setiap harinya,” kata Kepala Cabang Rumah Yatim Nusa Tenggara Barat, Hamdani.

Pendapatan yang dihasilkan, kata dia, tidak sebanding dengan kebutuhan harian papuk Saidi. Dirinya selalu merasa kesulitan, terlebih ketika ingin membeli beras. “Kadang harus terpaksa menukar dengan daun singkong yang dia tanam di sekeliling rumah,” ungkapnya.

Hamdani menjelaskan, kondisi rumahnya pun sudah banyak yang rusak. Hanya berdinding seng berkarat itu merupakan rumah tumpangan yang diberikan petugas perairan untuk papuk Saidi, dengan syarat ia harus membantu petugas ketika air meluap dari irigasi tersebut.

“Tempat tidur yang sekaligus sebagai tempat memasak dan menyimpan barang-barang itu sangat sempit karena hanya berukuran 3×4 meter. Selain itu tidak ada sarana MCK, hanya irigasi dekat rumahnya tempat ia mencuci dan mandi setiap hari, bahkan untuk minum saja Papuk Saidi terpaksa meminum air irigasi,” paparnya.

Kondisi yang cukup memprihatinkan itu membuat Rumah Yatim Cabang NTB menyalurkan kepeduliannya. Pada Selasa (16/3), Rumah Yatim memberikan bantuan biaya hidup dan sembako guna membantu memenuhi kebutuhan hariannya.

Hamdani berharap, dengan adanya bantuan Rumah Yatim, papuk Saidi tidak merasa sendiri. Harapannya juga bisa meringankan bebannya yang selama ini hidup sebatang kara.

Diketahui, papuk Saidi sesekali mengalami sesak napas sejak beberapa tahun terakhir. “Semoga tidak kambuh, dan selalu diberikan kesehatan. Mudah-mudahan bantuan Rumah Yatim dirasakan manfaatnya,” tandas Hamdani.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend