Sukirno, Buruh Tani Kerja Keras Demi Hidupi Ketiga Anaknya

Sukirno, Buruh Tani Kerja Keras Demi Hidupi Ketiga Anaknya

Rumah itu terbuat dari anyaman bambu yang usang. Dinding bambu itu sudah banyak yang bolong, kayu penyangganya pun hampir roboh. Sehingga bila dilihat secara langsung rumah yang berukuran 4X8 meter persegi itu pun tampak condong dan disangga oleh kayu yang juga sama usangnya dengan rumah itu.

Pemilik rumah itu bernama Sukirno. Menurutnya jika musim penghujan datang, rumah warisan orangtuanya itu akan mengalami kebocoran di sana-sini. Namun dia tak mampu berbuat apa-apa, dia hanya bisa pasrah karena setiap penghasilan yang dia dapatkan hanya cukup untuk membiayai kesehariannya saja. Tak ada biaya lebih untuk memperbaiki rumahnya. Karena itu pada saat Rumah Yatim datang menemui dia di rumahnya yang terletak di Batu Agung, Sukirno menyangka pihak Rumah Yatim adalah pihak pemerintah yang akan membedah rumahnya.

“Saya kira, ini dari pemerintah yang mau membedah rumah,” ungkapnya kepada Kepala Cabang Rumah Yatim Tegal, Jajang Khoeruman.

Untuk itu, Jajang pun menjelaskan maksud dan tujuan dirinya berkunjung di mana salah satu tujuannya adalah untuk bersilaturahmi dan ingin memberikan bantuan peduli sesama. Meski tidak sesuai dengan harapannya, namun Sukirno pun tetap menyambut gembira kedatangan Rumah Yatim.

Sebenarnya penghasilan lelaki paruh baya ini tak begitu kecil, sebagai buruh cangkul di sawah perhari dia dapatkan 50 ribu. Tapi pekerjaannya kini sudah jarang dibutuhkan, diakibatkan pemilik tanah lebih memilih menggunakan mesin traktor ketimbang tenaga manusia. Karena itu Sukirno jarang sekali mendapatkan pekerjaan. Beruntung dirinya dibantu sang istri yang juga bekerja sebagai buruh tani yakni buruh penanam padi yang belum tergantikan oleh mesin. Tapi penghasilan istrinya hanya 30 ribu perhari.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terkadang dirinya terpaksa mencari dedaunan yang ada di sawah atau di kebun milik orang lain untuk lauk pauknya. Karena ada ketiga buah hati yang masih kecil yang tentu membutuhkan nutrisi. Anak pertamanya Yusman Basri duduk di kelas 2 SMP, Wisnu masih kelas 3 SD dan Rendi masih TK. Untuk keperluan sekolah, Sukirno sangat terbantu oleh program wajib pemerintah, sedikitnya untuk pembayaran SPP, dirinya tak harus mengeluarkan biaya. Hanya cukup menyediakan peralatan sekolah saja yang cukup membebaninya. Meski begitu, dia pantang ngemis, sebisa mungkin dia berusaha mencari rezeki yang halal untuk keluarganya.

Karena kerja kerasnya itu, Jajang pun tersentuh oleh perjalanan hidupnya yang tidak pernah menyerah untuk terus berjuang dan terus bersyukur atas rezeki yang Allah berikan kepadanya. “Banyak pelajaran yang saya dan tim dapat darinya, ia pekerja keras dan berusaha sekuat tenaga mendapatkan harta yang halal,” papar Jajang.

Untuk itu, ia memberikan bantuan peduli sesama, sebagai bentuk kepedulian kepada Sukirno yang sudah berusaha, tanpa mengeluh dan memiliki cita-cita luhur untuk anak-anaknya. Selain itu Rumah Yatim pun berencana akan menjadikan anak-anaknya sebagai anak asuh nonmukim yang mendapatkan ATM mustahik.

“Saat ini kami sedang melakukan pendataan untuk ATM mustahik, insya Allah anak-anak Bapak Sukirno rencananya akan mendapatkan ATM mustahik tersebut,” ungkapnya.

 

Di tulis oleh : Enuy Nurhayati Pada tanggal 2018-05-25 21:07:28

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend