Tak Sempat Selamatkan Putra Bungsunya Saat Gempa, Marsu Sedih dan Trauma

Lombok Timur menjadi lokasi yang cukup parah terkena dampak gempa kemarin, (29/7). Ada tiga kepala keluarga yang rumahnya rusak. Salah satu warga yang rumahnya rusak parah bernama Marsu (60) di Dusun Obel-obel. Rumahnya rata dengan tanah. Hingga kini dia pun terpaksa tinggal di pengungsian yang didirikan oleh pemerintah setempat. Tapi, kerugian materi tak begitu berarti bagi bapak yang bekerja sebagai petani ini. Yang paling menyedihkan adalah dia tak mampu menyelamatkan putra bungsunya yang berusia enam tahun.

Masih teringat jelas dibenaknya saat itu gempa besar mengguncang rumahnya. Yang dia ingat adalah ibunya yang sudah tak mampu berjalan, dan tak mampu melihat, tinggal di sebelah kediamannya. Dia pun segera berlari menyelamatkan ibunya. Sekuat tenaga ibunya yang sempat hidup di jaman penjajahan Belanda itu dia gendong.

Sesampainya di tempat yang aman dia pun memeriksa anggota keluarganya, istri dan kedua anaknya selamat tapi putra bungsunya Egi tidak bersamanya. Saat gempa terjadi, putranya itu dalam kodisi tidur. Dia pun segera berlari ke reruntuhan rumahnya tersebut. Mengais-ngais reruntuhan dan menemukan tubuh kecil buah hatinya sudah tak lagi bernyawa. Menangis sedih, trauma, dan ketakutan, semuanya bercampur aduk. Putranya tak lagi bisa diselamatkan. Dia pun hanya pasrah karena semuanya adalah kehendak Yang Maha Kuasa. “Ini ujian untuk kami,” tutur Marsu mencoba tegar.

Sebagai bentuk kepedulian, Rumah Yatim pun memberikan beberapa kebutuhan yang diperlukan Marsu, kerluarga dan korban lainnya. Terutama sembako dan pakaian yang memang dibutuhkan oleh mereka saat ini. Menurut Marsu, dirinya dan keluarga belum sempat melihat kembali rumah mereka yang sudah porak poranda itu.

“Kami hanya diam di pengungsian karena takut jika gempa kembali datang,” imbuhnya.

 

Di tulis oleh : Enuy Nurhayati Pada tanggal 2018-07-30 17:02:01

 

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend