Tangis Haru Nurizah dan Kelima Cucunya Saat Terima Bantuan Rumah Yatim

Di usia senjanya, Nurizah (68) harus mengurus kelima cucunya seorang diri dengan kondisi tunanetra. Sejak 14 tahun lalu, Nurizah mengurus kelima cucunya itu hingga kini. Sebuah kontrakan sederhana di Dusun Merpati RT 03 RW 07, Desa Sungai Kakap, Kec. Sungai Kakap, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat, menjadi saksi perjuangan Nurizah.

Kondisi fisik yang terus melemah, membuat Nurizah tak bisa bekerja dan mengurus cucunya secara maksimal. Sehingga, kelima cucunya mencoba hidup mandiri, bahkan harus merawat Nurizah. Padahal, usia mereka masih belasan tahun dan ada juga yang masih kecil.

“Cucu yang paling besar berusia 14 tahun, yang paling kecil di bawah 10 tahun, mereka yang kini bekerja untuk merawat nenek dan memenuhi kehidupan mereka setiap harinya,” papar Kepala Cabang Rumah Yatim Pontianak, Rohim.

Ia menjelaskan, para cucu tersebut mencari sesuap nasi dari hasil bekerja mencari sayuran di rawa-rawa. Kecuali cucu yang paling kecil, karena harus menjaga nenek Nurizah di rumah. Penghasilan yang didapat, kata dia, memang tidak seberapa, tapi hanya itu yang bisa mereka lakukan.

“Mulai pukul 10 pagi hingga pukul 1 siang mereka mencari kangkung dan sayuran lainnya. Lalu kembali ke rumah untuk membersihkan sayurannya, dan dijual kepada warga sekitar,” ujarnya.

Dari hasil menjual sayur, kata dia, mereka hanya mendapat 15 hingga 20 ribu rupiah dalam satu hari jika laku. Hal itu menurutnya, tidak sebanding dengan perjuangan mereka yang masuk hingga ke rawa-rawa yang sangat dalam. Bahkan jika tidak laku, mereka hanya makan dengan garam saja.

Melihat kondisi itu, pada September 2020 lalu, Rumah Yatim Cabang Pontianak telah menyambangi kediaman Nurizah dan memberikan program beasiswa dhuafa bagi kelima cucunya. Kini, Rumah Yatim datang kembali untuk memberikan bantuan yang lebih banyak, pada Selasa (20/10). Penyerahan bantuan secara simbolis dilakukan oleh Kepala Desa Sungai Kakap, Hendri Oktavia.

Bantuan yang diberikan ialah bantuan biaya hidup, bahan makanan pokok, pemenuhan gizi dan nutrisi, perlengkapan MCK, serta satu unit sepeda. Bantuan membantu Nurizah dan kelima cucunya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, serta mendukung pendidikannya agar tak putus sekolah.

“Bantuan sepeda itu untuk para cucunya, agar dalam mencari kangkung tidak perlu jalan kaki lagi. Bisa juga dipakai untuk pergi sekolah,” tutur Rohim.

Tangis haru dan bahagia dirasakan Nurizah atas bantuan yang diberikan Rumah Yatim. “Karena baru pertama kali mendapat bantuan sebanyak,” kata Nurizah kepada Rumah Yatim sambil menangis.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada para donatur Rumah Yatim yang telah memberi bantuan. Kelima cucuknya pun sangat senang mendapatkan sepeda, karena mereka mengaku sangat butuh sekali untuk keperluan sekolah maupun jualan kangkung.

“Alhamdulillah penyaluran berjalan lancar. Senang campur aduk dengan sedih melihat mereka bahagia, semoga bantuan ini bermanfaat dan bisa meringankan beban mereka,” pungkas Rohim.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend