Terima Santunan Biaya Hidup, Suratun Tak Henti Ucap Syukur

Di masa tuanya, nenek 80 tahun ini hanya hidup dengan satu cucu saja. Sebagai seorang buruh cuci, cucu nenek Suratun hanya bisa memenuhi untuk keperluan makan sehari-hari. Tak berharap banyak, bagi Suratun cukup hidup dalam kesederhanaan saja. Ia sudah tak mampu berbuat apa-apa sehari-harinya. Suratun hanya mampu berdiam diri di kasur. Segala keperluan hajat hidupnya sepenuhnya ditanggung oleh cucunya.

Menurut Kepala Cabang Rumah Yatim Surabaya Agus Muhammad Yusuf, ada hal lain yang ia ambil pelajaran dari kehidupan nenek yang biasa disapa mbah ini. Mbah Suratun sangat bersahaja dan penuh dengan syukur.

“Beliau sosok yang penuh dengan rasa syukur,” ujar Agus.

Rasa syukur yang didapatkan Suratun adalah implementasi dari kesehariannya yang rajin beribadah. Ia tidak pernah lupa untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim, meski saat ini ia sudah tak mampu melihat dengan awas, dan tak mampu mendengar dengan jelas. Bahkan saat Agus dan tim mengajak dirinya berbincang, obrolannya pun sudah tidak nyambung. Namun dia sudah cukup berinvestasi untuk dirinya yakni dengan investasi akhirat untuk masa depannya, kelak di saat menghadap Sang Kuasa.

Pertemuan yang singkat namun berarti itu, Rumah Yatim pun memberikan Suratun santunan biaya hidup baginya.

Sembari mengenggam tangan relawan Rumah Yatim, Suratun pun tak berhenti mengucapkan rasa syukur dan lantunan doa mengalir dari mulutnya, doa kebaikan untuk Rumah Yatim dan para donaturnya. “Sampai kami melepas tangannya dia tak berhenti berdoa,” papar Agus.

 

Di tulis oleh : Enuy Nurhayati Pada tanggal 2018-03-29 14:07:00

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend