Umar Selamat Meski Sempat Terbawa Arus Tsunami

Terhitung dari Selasa (2/10) lalu, tim relawan Rumah Yatim berada di Sulawesi Tengah untuk menyambangi dan mendistribusikan bantuan di beberapa titik wilayah yang terdampak bencana tsunami dan gempa, Kamis (28/9) silam.

Ada banyak cerita dan informasi yang didapatkan tim relawan selama di beberapa lokasi tersebut. Salah satunya, tim relawan mendapatkan cerita pilu dari salah satu korban selamat gempa dan tsunami.

Cerita ini disampaikan Umar, ayah empat anak asal Kampung Nelayan, Palu. Ketika bencana terjadi, ia sedang berjualan siomay di pesisir pantai sembari memerhatikan beberapa orang yang sedang bermusyawarah mengenai persiapan acara Nomoni Palu 2018.

Umar mengatakan, ketika ia sedang memerhatikan, tiba-tiba ada guncangan gempa hebat menerjang. Sontak ia pun langsung lari meninggalkan gerobak siomaynya.

“Ketika saya lari, gempanya berhenti. Namun ketika saya melihat ke belakang, air laut naik. Saya pun terus lari sembari mengucapkan takbir,” ungkapnya, Jumat (12/10).

Kecepatannya berlari ternyata tidak mengalahkan kekuatan tsunami tersebut. Umar hanyut terbawa derasnya air, namun ia beruntung karena bisa berpegangan pada sebuah pohon.

“Alhamdulillah ketika saya hanyut, saya masih bisa pegangan ke sebuah pohon, meskipun pohon tersebut banyak durinya,” kata Umar.

Ia terus bertahan memeluk pohon tersebut meskipun badannya penuh luka terkena duri. Sampai ketika air laut surut, perlahan ia turun sembari menahan rasa sakit.

“Alhamdulillah saya bisa menyelamatkan diri, saya langsung lari ke tempat aman, Alhamdulillah saya bisa melaksanakan shalat magrib saat itu dengan pakaian basah dan penuh lumpur,” jelasnya.

Usia melaksanakan shalat magrib, Umar langsung mencari istri dan keempat anaknya. Ia berhenti di sebuah lapangan besar yang dijadikan penampungan sementara. Kesedihan dan kekhawatiran Umar berubah menjadi kebahagiaan ketika melihat istri dan keempat anaknya.

“Alhamdulillah rasa sedih ini mendadak hilang tatkala melihat istri dan anak saya selamat, meskipun badan mereka penuh dengan luka,” ujarnya.

Umar bersyukur karena selama di pengungsian ia dan keluarganya menerima banyak bantuan, salah satunya bantuan dari tim relawan Rumah Yatim. “Alhamdulillah kami sangat bersyukur bisa mendapat bantuan dari Rumah Yatim. Kedatangan tim relawan Rumah Yatim telah menghibur kami,” tuturnya.

Ia mewakili keluarga dan para pengungsi di Kampung Nelayan mengucapkan banyak terima kasih kepada Rumah Yatim dan para donatur yang telah peduli kepada para korban bencana tsunami dan gempa di Palu dan sekitarnya.

“Semoga Allah membalas semua kebaikannya, doakan kami semoga selalu diberi perlindungan dan kesehatan oleh Allah SWT,” pungkas Umar.

 

Jurnalis: Sinta Guslia

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend