40 Tahun Hidup Seorang Diri di Gubuk Usang, Rumah Yatim Beri Bantuan Bagi papuk Jinalim

Sudah hampir 40 tahun, papuk Jinalim (99) tinggal seorang diri di sebuah gubuk usang. Semakin hari kondisi fisiknya semakin melemah. Ditambah, ia pun sudah mulai pikun. Namun, ia tak pernah putus asa dalam menjalani hidup.

Diketahui, suaminya telah lama meninggal dunia dan meninggalkan lima orang anak. Kelima anaknya itu seiring berjalannya waktu, pergi merantau dan telah berkeluarga.

Meski usianya sudah hampir 100 tahun, papuk masih tetap bekerja menjadi buruh tani lepas. Karena, dirinya sudah tak bisa mengandalkan siapa-siapa lagi.

“Terkadang jika tak ada nasi dan lauknya, papuk hanya makan talas rebus saja,” ungkap Kepala Cabang Rumah Yatim Nusa Tenggara Barat, Hamdani yang melihat langsung kondisinya.

Meski kondisinya serba kekurangan, papuk Jinalim tak pernah mengeluh. Bahkan, beberapa warga sekitar juga salut akan semangat bekerjanya. Namun, warga juga khawatir jika papuk pergi ke hutan, karena jarang kembali ke rumah.

“Akibat pikun yang dideritanya, papuk suka pergi ke hutan dan bermalam di hutan beberapa hari, sehingga warga sering mencarinya ke hutan dan membawa pulang ke rumah,” paparnya.

Melihat kondisi tersebut, Rumah Yatim memberikan kepeduliannya melalui bantuan sembako, pada Minggu (14/2). Bantuan ini diberikan di kediaman papuk di Desa Langko, Kec. Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Hamdani menyebut, bantuan ini diberikan guna membantu memenuhi kebutuhan hariannya. Agar di usia senjanya itu, papuk Jinalim bisa beristirahat sejenak dari pekerjaan sebagai buruh tani.

“Walau hidup dalam keterbatasan, harapannya papuk selalu diberikan kesehatan dan hati yang lapang untuk menerima semua ini,” pungkasnya.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend