Home / Rubrik / Berita

Efek dari Pengabaian Emosi Pada Anak

gambar-headline
Bandung Post Views: 310

Orangtua memiliki kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan anaknya. Bukan hanya kebutuhan secara fisik dan materi saja, tetapi juga kebutuhan berupa psikis serta mental. 

 

Sayangnya, banyak orangtua yang tidak sadar telah mengabaikan kebutuhan emosional anak sedari kecil. Salah satu bentuk pengabaian emosional anak adalah mengabaikan perasaan mereka. Misalnya, mengatakan bahwa anak "gitu aja nangis, cengeng." Contoh kedua "Loh kok nangis? Nih Pak polisi ada anak nangis ini!" Dan contoh ketiga "Harusnya kamu bersyukur sudah dibelikan sepeda, nggak perlu nangis karena nggak ada keranjangnya!" 

 

Seolah sepele, ternyata mengabaikan emosi anak dapat menimbulkan efek yang signifikan pada kesejahteraan psikologis mereka saat dewasa loh.

 

Berikut efek dari mengabaikan emosi anak sampai mereka dewasa nanti :

1. Anak merasa enggan untuk bergantung terhadap orang lain

Efek yang pertama yakni, anak biasanya memiliki rasa enggan untuk bergantung terhadap orang lain. Hal ini menjadi tanda yang umum dimiliki oleh para anak dengan rasa trauma terkait pengabaian emosi.

Anak cenderung selalu menolak bantuan dari orang lain dan berusaha berjuang sendirian. Bahkan, mereka akan merasa cemas jika ketergantungan pada orang lain.

 

2. Sering menyalahkan diri sendiri

Anak yang mengalami pengabaian emosi masa kecil akan sering menyalahkan diri sendiri. Anak akan sering merasa bersalah dan malu terkait perasaan yang sedang dialaminya.

 

Hal tersebut disebabkan karena si anak memang gak pernah mendapatkan validasi atas emosi yang dirasakan. Menyalahkan diri sendiri memang hal yang cukup sering terjadi untuk semua orang, namun anak dengan pengabaian emosi masa kecil akan menyalahkan diri sendiri lebih kronis atau parah dan hal tersebut merupakan sebuah bentuk trauma dari masa kecilnya.

 

3. Merasa kesulitan untuk mengidentifikasi emosi yang terjadi

Anak dengan pengabaian emosi di masa kecil memiliki kesulitan untuk mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi yang tengah dirasakan. Mereka tidak pernah mendapatkan validasi emosi dari keluarganya.

Pada akhirnya, anak dengan pengabaian emosi di masa kecil ini tidak bisa mengekspresikan emosinya sendiri.

Emosi yang dirasakan akan terus dipendam dan dikubur dalam dirinya sendiri. Mereka sendiri pun bahkan tidak memahami emosi seperti apa yang tengah dirasakan

 

4. Sering merasa kosong dan kesepian

Pengabaian emosi pun berpengaruh terhadap kondisi perasaan anak, di mana anak akan sering merasa kosong dan kesepian, bahkan ketika sedang berkumpul bersama keluarganya.

Perasaan kosong dan kesepian ini ternyata disebabkan karena adanya sesuatu yang hilang dalam diri mereka, yaitu emosi. Anak mengalami kehilangan akses terhadap emosinya, karena memang tidak pernah mendapatkan validasi atas emosi yang tengah dirasakan.

 

5. Kurang memiliki belas kasih (self-compassion) terhadap diri sendiri

Anak-anak dengan pengabaian emosi di masa kecil mungkin sering kali memberikan belas kasih dan empati kepada orang lain. Namun, mereka biasanya gak memiliki belas kasih atau self-compassion terhadap diri sendiri.

Mereka sudah terbiasa mengabaikan perasaannya sendiri, sehingga akan sulit untuk berempati terhadap diri sendiri. Orangtua pun wajib mengetahui gejala dari perilaku tersebut, karena hal itu dapat berubah menjadi sebuah trauma kronis.

 

 

Itulah perilaku anak yang mengalami pengabaian emosi di masa kecil. Jika memiliki tanda di atas, segera coba sembuhkan trauma tersebut agar anak tidak memiliki permasalahan kesehatan mental yang lebih lanjut. 

Namun jika anaknya masih kecil, coba untuk terus berusaha memahami emosi anak, salah satunya dengan Jadi pendengar yang baik untuk anak, bantu anak untuk mengekspresikan emosinya (bisa melalui gambar maupun cerita), validasi dan empati dengan emosi anak, dan ajarkan anak untuk mengelola emosi yang benar.

 

 

Semoga bermanfaat...


Author

img-author

Sinta Guslia

7 bulan yang lalu