Home / Rubrik / Berita

Jual Beli yang Dilarang Dalam Islam

gambar-headline
Bandung Post Views: 81

Islam secara rinci telah mengatur berbagai aspek dalam kehidupan manusia. Mulai dari hal yang sederhana seperti adab tidur dan makan, hingga yang lebih spesifik seperti kegiatan jual beli. Islam bahkan sudah menentukan jenis jual beli yang dilarang dalam islam. Hal ini tentu bertujuan agar kedua belah pihak mendapat keuntungan dan berkah serta tidak ada pihak yang nantinya akan dirugikan dari transaksi tersebut.

 

Lalu, apa saja jenis jual beli yang dilarang dalam islam? Simak pembahasannya berikut ini.

 

1. Jika akad jual beli itu menyulitkan ibadah, misalnya mengambil waktu shalat.

Seorang pedagang sibuk dengan jual beli sampai terlambat melakukan shalat. Berniaga yang sampai melalaikan seperti ini dilarang. Allah berfirman.

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. [Al-Jumu’ah/62 :9-10].

 

Seorang pedagang akan meraih keuntungan yang hakiki, jika mampu meraih dua kebaikan, yaitu memadukan antara mencari rezeki dengan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. 

 

2. Menjual barang yang diharamkan

Jika Allah sudah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan hasil penjualannya. Seperti menjual sesuatu yang terlarang dalam agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menjual bangkai, khamr, babi dan patung. 

Barangsiapa yang menjual bangkai, maksudnya daging hewan yang tidak disembelih dengan cara yang syar’i, ini berarti ia telah menjual bangkai dan memakan hasil yang haram.

Begitu juga hukum menjual khamr. Khamr, maksudnya segala yang bisa memabukkan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Semua yang memabukkan itu adalah khamr, dan semua khamr itu haram.

Termasuk dalam masalah ini, bahkan lebih berat lagi hukumnya, yaitu menjual narkoba, ganja, opium dan jenis obat-obat psikotropika lainnya yang merebak pada saat ini. 

 

3. Menjual barang yang dimanfaatkan oleh pembeli untuk sesuatu yang haram

Jika seorang penjual mengetahui dengan pasti, bahwa si pembeli akan menggunakan barang yang dibelinya untuk sesuatu yang diharamkan, maka akad jual beli ini hukumnya haram dan bathil. Jual beli seperti ini termasuk tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan. Allah Azza wa Jalla berfirman :

 

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. [Al Maidah/5 :2].

Misalnya seseorang yang membeli anggur untuk membuat khamr, membeli senjata untuk membunuh seorang muslim, menjual senjata kepada perampok, para pemberontak atau kepada pelaku kerusakan.

 

4. Menjual barang yang tidak ia miliki

Misalnya, seorang pembeli datang kepada seorang pedagang mencari barang tertentu. Sedangkan barang yang dicari tersebut tidak ada pada pedagang itu. Kemudian antara pedagang dan pembeli saling sepakat untuk melakukan akad dan menentukan harga dengan dibayar sekarang ataupun nanti, sementara itu barang belum menjadi hak milik pedagang atau si penjual. Pedagang tadi kemudian pergi membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada si pembeli.

 

Jual beli seperti ini hukumnya haram, karena si pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak ada padanya, dan menjual sesuatu yang belum menjadi miliknya, jika barang yang diinginkan itu sudah ditentukan. Dan termasuk menjual hutang dengan hutang, jika barang yang diinginkan tidak jelas harganya dibayar di belakang.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang cara berjual beli seperti ini. Dalam suatu riwayat, ada seorang sahabat bernama Hakim bin Hazam Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm : “Wahai, Rasulullah. Seseorang datang kepadaku. Dia ingin membeli sesuatu dariku, sementara barang yang dicari tidak ada padaku. Kemudian aku pergi ke pasar dan membelikan barang itu”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Jangan menjual sesuatu yang tidak ada padamu. [HR Tirmidzi].

 

5. Najasy (menawar harga tinggi untuk menipu pengunjung lainnya).

Misalnya, dalam suatu transaksi atau pelelangan, ada penawaran atas suatu barang dengan harga tertentu, kemudian ada seseorang yang menaikkan harga tawarnya, padahal ia tidak berniat untuk membelinya. Dia hanya ingin menaikkan harganya untuk memancing pengunjung lainnya dan untuk menipu para pembeli, baik orang ini bekerjasama dengan penjual ataupun tidak.

Orang yang menaikkan harga, padahal tidak berminat untuk membelinya telah melanggar larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

“Janganlah seseorang menjual di atas jualan saudaranya, janganlah melakukan najesy dan janganlah orang kota menjadi calo untuk menjualkan barang orang desa”. (HR. Bukhari no. 2160 dan Muslim 1515)

 

Orang yang tidak berminat membeli dan tidak tertarik pada suatu barang, hendaknya tidak ikut campur dan tidak menaikkan harga. Biarkan para pengunjung (pembeli) yang berminat untuk saling tawar-menawar sesuai harga yang diinginkan.

 

6. Melakukan akad jual beli di atas akad saudaranya.

Misal. Ketika pembeli & penjual sedang dalam masa khiyar atau masa sedang menimbang atau memutuskan untuk jadi/tidaknya melakukan transaksi jual beli. Kemudian ada penjual lain merayu pembeli tersebut agar pindah bertransaksi dengannya dengan iming-iming lebih dibanding penjual pertama baik itu dengan harga yang lebih murah, terdapat bonus dan lain sebagainya. Sebagaimana hadist berikut;

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah seseorang menjual di atas jualan saudaranya. Janganlah pula seseorang khitbah (melamar) di atas khitbah saudaranya kecuali jika ia mendapat izin akan hal itu”. (HR. Muslim no. 1412)

 

7. Talaqqil jalab

Misal, Seorang pedagang menemui orang yang hendak menjual barangnya (Pada masa Rosul, menghentikan penjual sebelum sampai pasar), dengan memberitahu bahwa barang tersebut tidak begitu laku atau murah. Tujuannya untuk mengelabuhi si penjual agar bisa membelinya dengan murah. Sebagaimana hadist berikut;

“Dulu kami pernah menyambut para pedagang dari luar, lalu kami membeli makanan milik mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas melarang kami untuk melakukan jual beli semacam itu dan membiarkan mereka sampai di pasar makanan dan berjualan di sana”. (HR. Bukhari no. 2166)

 

8. Hadir lil Baad

Jual beli yang sering terjadi di pedalaman, dimana pedagang memainkan harga sesukanya tanpa memberitahu informasi yang sebenarnya kepada warga lokal. Tentu transaksi ini hanya dimaksudkan pedagang untuk keuntungan lebih bagi dirinya tanpa memperdulikan nasib penduduk “lokal”.

“Janganlah menyambut para pedagang dari luar (talaqqi jalab/rukban) dan jangan pula menjadi calo untuk menjualkan barang orang desa”. Ayah Thowus lantas berkata pada Ibnu ‘Abbas, “Apa maksudnya dengan larangan jual beli hadir li baad?” Ia berkata, “Yaitu ia tidak boleh menjadi calo”. (HR. Bukhari nol. 2158)

 

9. Menimbun Barang

Membeli barang dalam jumlah besar dengan tujuan mempengaruhi pergerakan pasar. Mengakibatkan stok barang langka. Akibatnya masyarakat terpaksa memperebutkan barang tersebut dengan cara menaikkan penawaran atau membeli dengan mahal karena kebutuhan.

“Tidak boleh menimbun barang, jika tidak, maka ia termasuk orang yang berdosa”. (HR. Muslim no. 1605)

 

10. Jual beli dengan Penipuan atau Pengelabuan

Jika ada seorang pedagang menipu pembeli dengan cara tidak menjelaskan jika barang tersebut cacat. Jual beli seperti ini tidak boleh, karena mengandung unsur penipuan dan pemalsuan. Para penjual seharusnya memberitahukan kepada pembeli, jika barang yang hendak dijual tersebut dalam keadaan cacat. 

Penjual dan pembeli memiliki hak pilih selama belum berpisah. Jika keduanya jujur, niscaya keduanya akan diberikan barakah pada jual beli mereka.Jika keduanya berbohong dan menyembunyikan (cacat barang), niscaya barakah jual beli mereka dihapus.

 

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang pedagang di pasar. Di samping pedagang tersebut terdapat seonggok makanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya yang mulia ke dalam makanan itu, dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan ada sesuatu yang basah di bagian bawah makanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada pedagang: “Apa ini, wahai pedagang?” Orang itu menjawab: “Makanan itu terkena air hujan, wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” kemudian Rasulullah bersabda: “Mengapa engkau tidak menaruhnya di atas, agar bisa diketahui oleh pembeli? Barangsiapa yang menipu kami, maka dia tidak termasuk golongan kami”.

 

 

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua dan kita diberikan pemahaman agar terhindar dari berbagai praktik Jual Beli yang dilarang dalam islam, Aamiin.


Author

img-author

Sinta Guslia

1 bulan yang lalu