Papuk Rahni Berjuang Seorang Diri Penuhi Kebutuhan Keluarga dalam Himpitan Ekonomi

Papuk Rahni (69) dikenal sebagai sosok yang tangguh. Pasalnya, ia berjuang menjalani pahitnya kehidupan seorang diri tanpa suami disisinya. Apalagi, kondisi fisiknya saat ini sudah tidak sekuat dulu.

Akibat faktor usia, tak jarang penyakit Papuk Rahni sering kambuh. Hal itu membuat ia tidak dipercaya lagi menjadi buruh tani. Akhirnya, Papuk Rahni bertahan hidup dengan 10 ekor ayam yang diternakkan telurnya.

Beternak ayam-ayam tersebut dilakukannya jarena tidak ingin merepotkan anaknya yang sudah memiliki keluarga. Waktu yang dibutuhkan untuk ternak telur ayam sekitar tiga sampai lima bulan.

Jika laku, Papuk Rahni hanya mendapat sekitar 200 ribu rupiah. Namun, jika tidak laku, ia harus menukar ayamnya dengan kebutuhan pokok yang hanya cukup untuk satu bulan saja. Sementara bulan berikutnya Papuk Rahni harus hidup dalam kesulitan.

Ia kini tinggal di gubuk tua dari anyaman bambu yang telah usang. Saat ini, ketiga anaknya sudah memilih hidup mandiri. Oleh karena itu, ia hanya tinggal bersama cucunya yang sudah yatim dan sedang di bangku SMK.

Oleh karena itu, Rumah Yatim Cabang Nusa Tenggara Barat memberikan bantuan sembako bagi Papuk Rahni dan program beasiswa bagi cucunya. Bantuan itu diberikan di kediamannya di Desa Langko, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Cabang Rumah Yatim NTB, Hamdani mengatakan, bantuan yang diberikan guna membantu memenuhi kebutuhan harian mereka. Serta, sebagai bentuk dukungan bagi pendidikan cucunya.

“Bagaimana pun pendidikan harus jadi nomor satu, mudah-mudahan Papuk Rahni sehat selalu, dan cucunya bisa sekolah sampai tamat,” ungkapnya.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend