Tsunami Seret Afdal Terjebak dalam Got, Ia Hidup dengan Berenang

Palu menjadi pilu, Donggala menjadi luka. Tanah hijau mulai tandus, sisa lumpur dan rumah hancur masih terhampar. Luka itu semakin sulit, saat seorang anak, Afdal (8), harus berjuang hidup dalam musibah tsunami yang menyeret dirinya pada akhir bulan September lalu.

Ia merupakan seorang anak yang berjuang melawan derasnya arus air tsunami, yang meluluhlantahkan tempat tinggalnya di Kampung Nelayan, Petobo, Palu. Tsunami yang menerjang Donggala hingga Palu pada 28 September lalu, menyeret dirinya hingga harus berjuang di dalam got (saluran air).

Dari informasi yang didapatkan dari Afdal, ia harus berjuang hidup kurang lebih selama dua hari. Menahan derasnya air serta material rumah yang menerjang tubuh kecilnya. Namun perjuangan dia, terbayar hingga ditemukan oleh salah satu warga pada 30 September lalu.

Luka sobek serta memar masih membekas cukup jelas di sekujur tubuhnya. Luka itu ditahannya, sampai kedatangan tim relawan Rumah Yatim untuk mengobati. Bahkan, selama kurang lebih lima hari kondisi Afdal sangat memprihatinkan. Sebelumnya, Afdal mengatakan, luka di sekujur tubuhnya akibat goresan benda tajam salah satunya paku.

“Dia itu tidak sadar masih di dalam air awalnya, luka-luka sekujur tubuhnya,” papar Solehudin, salah satu relawan Rumah Yatim.

Selama dua hari di dalam got, ia berjuang hidup mencoba mencari ruang untuk bernapas. Terlahir dari anak seorang nelayan keahlian berenangnya menjadi penyelamat. Diakuinya, selama di dalam got ia tidak makan. Bahkan, ia terus mempertahankan diri agar tidak kembali terseret arus yang masih tersisa.

Tidak banyak yang dikatakan Afdal, hanya senyum manis yang keluar dari anak berambut ikal tersebut. Di benaknya, masih pilu apalagi mengingat perjuangannya saat tsunami menerjang tubuhnya yang mungil. Afdal sendiri merupakan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia adalah siswa kelas dua di salah satu sekolah dasar di wilayah Petobo.

Saat ini Afdal berjuang hidup dengan ribuan pengungsi di Palu. Bahkan, rasa senang terlihat saat tim relawan Rumah Yatim datang memberikan pengobatan kepada dirinya. Selain itu, relawan juga memberikan bantuan berupa kebutuhan makanan serta air minum. Maklum saja, sejak tsunami menerjang wilayah tersebut saat ini masyarakat harus berjuang dalam kurangnya bahan makanan.

 

Jurnalis: Calam Rahmat

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend