Hidup dalam Himpitan Ekonomi, Mualaf Asal Dompu Terima Bantuan Rumah Yatim

Sudah 27 tahun, Muhamad Mukhlis (48) memilih jalan menjadi seorang mualaf. Meski harus dihujat dan dibenci keluarganya sendiri, namun ia tetap teguh pada pilihannya menjadikan Islam sebagai agamanya.

Di tengah berbagai hinaan dan rintangan karena berpindah keyakinan, Mukhlis berjuang bertahan hidup dalam himpitan ekonomi. Setiap harinya, ia bekerja sebagai buruh serabutan untuk menafkahi istri dan ketiga anaknya.

Saat ini, Mualaf Asal Dompu, Nusa Tenggara Barat itu tinggal di rumah panggung pemberian warga sekitar. “Kondisi bangunannya sudah lapuk termakan usia, karena terbuat dari dinding bilik bambu serta atap yang bocor,” ujar Kepala Cabang Rumah Yatim Nusa Tenggara Barat, Hamdani.

Diketahui, belakangan ini pendapatannya semakin menurun. Hal itu dikarenakan sudah banyaknya orang yang memiliki motor, sehingga ia pun kehilangan penumpang dan harus berhenti menjadi tukang ojek.

Menjadi buruh tani lah yang masih ia kerjakan sampai saat ini. Penghasilan yang tak menentu, kata dia, membuat keluarganya harus hidup serba kekurangan. Tak jarang, ia pun terpaksa berhutang agar keluarganya bisa makan dan anak-anaknya bisa sekolah.

Sebagai orangtua, Mukhlis tetap ingin ketiga anaknya mendapatkan hak pendidikan. Ia tak ingin anaknya putus sekolah lantaran kondisi yang serba kekurangan. “Jadi pak Mukhlis harus berhutang sana sini untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” tuturnya

Hal itulah yang menjadi alasan Rumah Yatim Cabang NTB memberikan bantuan kepada Mukhlis, pada Senin (3/5). Bantuan yang diberikan berupa bantuan biaya hidup dan sembako.

Harapannya, kata Hamdani, bantuan ini bisa meringankan beban Mukhlis. “Mudah-mudahan bermanfaat serta ke depannya kehidupan mereka lebih baik lagi dan tetap istiqomah berada di jalan Islam,” pungkasnya.

Jurnalis: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend