Kalimat Takbir Menjadi Tanda Sanubari Bahagia dengan Bantuan Rumah Yatim

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar

Kalimat takbir tersebut terus diucapkan Sanubari (8) ketika mengetahui tim relawan Rumah Yatim Tegal menjemputnya untuk memberikan beragam bantuan. Saking senangnya, ia sampai melompat beberapa kali diselang perjalanan menuju rumahnya di Jl. Kresna, Kejambon, Kec. Tegal Tim., Kota Tegal.

“Awalnya ketika kami mendatangi tempat tinggal Sanubar hanya ada ibunya saja, sedangkan Sanubari sedang takbiran di mushola yang jaraknya cukup dekat dengan tempat tinggalnya, agar ia bisa menerima langsung bantuan, kami pun menjemputnya, Alhamdulillah dia kegirangan sekali ketika melihat kami datang,” papar Hera salah satu tim relawan Rumah Yatim Tegal, Rabu (12/05).

Sesampainya di rumah Sanubari, ia dikagetkan dengan banyaknya bantuan yang diberikan, ia pun langsung memeluk sang ibu yang saat itu tengah menangis bahagia.

“Ya Allah perasaan ini campur aduk, ada kaget, terharu, dan yang pastinya sangat bersyukur dan bahagia bisa menerima bantuan ini, Alhamdulillah terima kasih kepada Rumah Yatim dan para donatur yang telah memerhatikan Sanubari, anak spesial saya,” ungkap Ibu Sanubari.

Ibu Sanubari menambahkan jika bantuan ini sangat bermanfaat untuk mereka, terlebih menjelang hari raya Idul Fitri. Tak lupa ia pun mendoakan untuk kebaikan Rumah Yatim dan para donatur.

Diketahui, Sanubari merupakan anak spesial yang terlahir dengan kondisi difabel, Ia pun sudah berstatus yatim. Ia tinggal di rumah satu petak kecil hasil dari warisan nenek Sanubari.

Pintu rumah tersebut pun sudah tidak bisa dipakai, untuk masuk ke rumah, Sanubari dan ibunya mesti melewati jendela. Karena rumah tersebut sangat kecil, seringkali Sanubari tinggal di saung tanpa dinding yang lokasinya tepat di rumahnya.

Salah satu keinginan Sanubari ialah merasakan kasih sayang ayah, namun apalah daya, keinginan tersebut hanya bisa ia tahan dan menguburnya dalam-dalam. Kondisi fisiknya pun membuat Sanubari kesulitan mendapat teman, meskipun begitu ia tidak pernah mundur untuk terus belajar dan belajar.

Karena tak memiliki teman, Sanubari mengisi waktu nya dengan membersihkan mushola. Selain di mushola, ia pun kerap menyibukkan diri dengan menggambar dan belajar ngaji dengan ibunya

Untuk memenuhi kebutuhan Sanubari, sang Ibu mesti bekerja keras seorang diri menjadi pembuat anyaman sarung dengan upah 10.000/hari. Makan tanpa lauk sudah menjadi teman makan Sanubari sehari-hari, walaupun begitu ia dan ibunya tetap bersyukur masih bisa makan dengan uang halal.

Kondisi prihatin ini menjadikan Sanubari tumbuh menjadi sosok yang tegar, kau dan sangat berbakti pada sang Ibu.

“Senang sekali bisa bertemu dengan Sanubari, dia anak yang ceria dan semangat. Semoga bantuan ini bisa membantu ibunya memenuhi kebutuhan di hari raya dan menambah kebahagiaan mereka,” tutup Hera.

Sinta Guslia

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend