Rumah Yatim Assessment Program Ekonomi Produktif Penjual Es Dawet

Rumah Yatim Cabang Medan mengunjungi kediaman seorang penjual es dawet untuk melakukan assessment program ekonomi produktif di Gang Pusaka, Dwikora, Kota Medan. Dia adalah Sodik (34), pria asal Banyuwangi Jawa Timur ini mencoba mengadu nasib di Medan, Sumatera Utara dengan berjualan es dawet yang sudah digelutinya selama kurang lebih lima tahun.

Menurut pantauan Kepala Cabang Medan Dasep, sehari-hari Sodik berjualan es dawet di sekitar Komplek Dwikora dan masjid dekat Kantor Kas dan Asrama Rumah Yatim Medan. Penghasilannya dalam sehari dari berjualan itu mencapai 100 ribu rupiah. Namun berbeda ketika musim hujan, hasil yang diperoleh hanya setengahnya. Terlebih karena kondisi gerobak yang sudah tidak layak digunakan.

“Penghasilan segitu kadang cukup, kadang enggak, dia (red: Sodik) kan ngontrak sendiri, jadi harus bayar kontrakan sebulannya 700 ribu rupiah perbulan,” ungkap Dasep.

Awalnya berjualan es dawet ini milik orang lain, dengan sistem setoran perhari. Sehingga upah perbulannya ditaksir mencapai 500 ribu rupiah ditambah bonus 10 persen. Tentunya penghasilan tersebut tidak mencukupi untuk makan sehari-hari dan bayar kontrakan. Oleh karena itu, Sodik mencoba memperbaiki ekonominya dengan usaha sendiri.

“Karena kalau usaha sendiri, ketika sakit juga bisa istirahat. Kadang kalau kerja di orang gak ada istirahatnya,” ujar Dasep.

Rencananya, kata dia, Rumah Yatim Cabang Medan akan memberikan bantuan program ekonomi produktif berupa gerobak kepada Sodik. Hal itu dilakukan untuk mengembangkan usahanya agar menjadi pelaku ekonomi produktif yang mandiri. Sehingga diharapkan melalui program ini bisa memperpaiki taraf ekonominya menjadi lebih baik.

 

Jurnalis: Dila Nurfadila

Redaktur: Anjar Martiana

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Open chat
Send this to a friend