Tinggal di Gubug dan Terancam Terusir, Bocah Difabel di Batam Butuh Bantuan Rumah

Tinggal di Gubug dan Terancam Terusir, Bocah Difabel di Batam Butuh Bantuan Rumah

Fatan (6), terlahir dalam keadaan tidak bisa mendengar dan tak bisa bicara. Nahas, saat baru berusia dua bulan Fatan pun harus ditinggalkan sang Ayah karena bercerai dengan ibunya. Hingga saat ini, Ia pun belum pernah melihat wajah Ayahnya.

Saat ini, Fatan yang merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara tinggal bersama Ibunya, Anis. Bersama Ibu dan kakak-kakaknya, Fatan tinggal di rumah seadanya yang tidak memiliki penerangan, dan itupun milik orang lain.

Rumah yang dihuni Fatan dan keluarganya terpencil di tengah kebun, tepatnya di kawasan Ruli Taman Raya, RT 04 RW 17, Desa Belian, Kecamatan Batam Kota. Karena faktor ekonomi, keluarga Fatan tidak bisa membayar listrik dan hanya mengandalkan damar. Dari pemerintah pun mereka tak mendapat bantuan.

Pemilik rumah sengaja meminjamkan rumah yang seperti gubuk tersebut untuk Fatan dan keluarganya agar sekalian menjaga kebun. Namun Fatan dan keluarga saat ini tengah kebingungan karena rumah tersebut akan dipakai sang pemilik dan mereka harus segera keluar bulan depan.

“Dia minta tolong juga ke Rumah Yatim, karena gak punya tempat tinggal. Ibunya minta bantuan untuk bayar sewa kontrakan sebulan saja, karena bingung harus sudah keluar dari rumah itu,” terang Kepala Cabang Rumah Yatim Batam, Septian Januar.

Kesehariannya, Fatan hanya bisa diam di rumah dan tak pernah bermain bersama teman-temannya karena sering mendapat ejekan. Meski tak mendengar, namun Fatan mampu merasakan jika teman-temannya mengucilkan dan mengejek kondisinya yang memiliki keterbatasan.

“Kata orangtuanya anaknya pinter. Umurnya 6 tahun lebih, harusnya udah masuk sekolah sekarang. Tapi biayanya dari mana, belum lagi kondisinya jadi harus sekolah di SLB, sedangkan SLB lebih mahal,” ujar Septian.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Fatan dibantu kakaknya yang saat ini berusia 21 tahun dan telah bekerja di pabrik. Namun penghasilan kakaknya masih dirasa kurang karena harus membiayai seluruh keluarganya.

Selain mengandalkan kakaknya, sang Ibu pun sering bekerja serabutan dan bantu-bantu. Terkadang, ibunya menjadi buruh cuci baju tetangga, membantu di kebun orang, atau kerja apa saja asal bisa mendapatkan upah untuk makan.

“Harapan paling utama dari Fatan, ingin mendengar,” tuturnya.

Melihat kondisi Fatan dan keluarganya, Rumah Yatim Cabang Batam pun memberinya Bantuan beasiswa dhuafa untuk Fatan dan Biaya hidup untuk membantu memenuhi kebutuhan Bu Anis dan keluarga.

 

 

Jurnalis: Tanti Sugiharti

About Author

Berita terkait

Leave a Comment

Send this to a friend